Senin, 27 Agustus 2018

Drama Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia



Drama Ir. Soekarno Dan Rengasdengklok


DRAMA SOEKARNO

Setelah belanda meninggalkan indonesia datanglah jepang dengan kekuatannya untuk menjajah indonesia mengambil rempah-rempah, dan mempekerjakan paksa pribumi indonesia dengan sangat sadisnya.
(jepang masuk dengan mendorong rakyat pribumi)
Jepang 1 : ayo cepat kerja… dasar kamu tidak berguna!!
Jepang 2 : kamu bisanya malasan saja( sambil mendorong pribumi 2)
Pribumi 1(perempuan) : ampun tuan… ampun…
Pribumi 2(perempuan) : ampuni kami tuan, kami belum makan selama 4 hari.
Pribumi 3(suami pribumi 1): dasar jepang sialan, akan ku bunuh kau. ( sambil mengangkat pacul ke arah jepang ).
Jepang 2 😦 menahan dan membalas memukul kepala ke pribumi 3 ). berani melawan kamu ya !
Pribumi 1 : ampun.. jangan sakiti suami saya! ( sambil menangis dan membantu suaminya ). (EFEK: DARAH PALSU DI TARUH DI KENING) “Jepang 3 Datang”
Jepang 3 : kita diperintahkan kembali ke negara jepang karena negara kita diserang ! ( turun panggung dengan semua jepang ).
Pribumi 4 : ( berdiri dengan perasaan gembira ). Kita bebas … kita bebas … merdeka … merdeka … (semua pribumi ikut senang dan berteriak).

SCENE I : Berita Kekalahan Jepang

Tanggal 14 Agustus 1945, Jepang menyerah kepada sekutu, setelah sebelumnya kota Hiroshima dan Nagasaki jatuh, karena bom atom di tembakan di kota itu, Pada masa itu, Indonesia ada dibawah kekuasaan Jepang. Kekalahan Jepang menjadi kesempatan bagi Indonesia untuk lepas dari tangan penjajah,
ini membuat golongan muda, seperti Sutan Sjahrir, Sukarni,Chairul Saleh dan wikana, mendesak golongan tua, diantaranya Ir. Sukarno dan Drs. Mohammad Hatta, untuk menggunakan kesempatan, untuk segera memproklamirkan kemerdekaan.
(Sutan Syahrir masuk panggung sambil menempelkan radio ke telinga)
Sutan Syahrir : Teman teman ada berita penting dari saluran BBC, Jepang menyerah kepada sekutu!
Wikana : Benarkah?
Sutan Syahrir : Ya, sekutu telah menjatuhkan bom di kota Hiroshima dan Nagasaki.
Chairul Shaleh : Inilah saat yang tepat untuk memproklamirkan kemerdekaan kita!
SS dan Wikana : Setuju!

SCENE II

Tanggal 15 Agustus 1945, Di Jalan Pegangsaan Timur No.17, Jakarta, Berkumpulah para pemuda, Dan juga beberapa golongan tua, Antara lain Ir.Sukarno dan Drs. Moh Hatta, Untuk membicarakan proklamasi kemerdekaan Indonesia.
Chairul Shaleh : Sekarang Bung, sekarang! Kita proklamirkan kemerdekaan!
Sukarni : Kita harus segera merebut kekuasaan!
CS dan Sukarni : Kami sudah siap mempertaruhkan jiwa kami!
Soekarno : Mengapa sekarang? Kekuatan kita belum cukup untuk melawan kekuatan Jepang!
Chairul Shaleh : Ini saat yang tepat, Bung. Jepang sudah kalah oleh Sekutu dan tak ada kuasa lagi di negeri ini.
Sukarni : Benar Bung! Ini saat yang tepat!
Soekarno : Baiklah! Beri saya waktu untuk berunding dengan yang lainnya.
Ir.Sukarno akhirnya, Dengan beberapa tokoh golongan tua lainnya, Salah satunya drs. Mohammad Hatta, Dan juga Soebardja, Melakukan perundingan, Untuk menghasilkan kesepakatan.
Tetapi, Hasil perundingan golongan tua, Membuat golongan muda, Merasa kecewa, Dan melakukan rencana rahasia, Untuk mengasingkan Soekarno dan Mohammad Hatta, Ke Rengasdengklok, kota kecil jauh dari jalan raya, Agar mereka, Tidak terpengaruh oleh Jepang di Jakarta. Dengan tujuan, keduanya, Membuat Indonesia cepat merdeka,

SCENE III
Tanggal 16 Agustus 1945 Di pagi pagi buta, Datanglah beberapa pemuda, Ke rumah Ir.Soekarno dan mohammad Hatta, Untuk diam diam membawa mereka, Ke Rengasdengklok seperti rencana semula.
Chairul Shaleh : Assalamualaikum ..
Moh. Hatta : Waalaikumsalam. Ada apa Saudara datang sepagi ini ?
Darwis : Kami bermaksud membawa Anda dan Soekarno untuk ikut kami menuju tempat pengasingan.
Soekarno : Tempat pengasingan ? Apa yang Saudara maksudkan ?
Chairul Shaleh : Ya, kami akan membawa kalian untuk diasingkan agar terhindar dari ancaman bentrok antara rakyat dan Jepang.
Moh. Hatta : Baiklah, kami akan ikut.
Darwis : Sebaiknya Ibu Fatmawati dan anak Anda turut serta, Bung. Untuk menjamin keselamatan mereka.
Soekarno : Baiklah.
Fatmawati : ada apa ini pak ramai sekali !, kasihan guntur baru saja tidur sudah ada keributan ! (sambil menimang anak)
Soekarno : Aku juga tidak tau buk.
SCENE IV
Hilangnya Soekarno dan Moh. Hatta, secara misterius di pagi buta, menimbulkan kepanikan di kalangan para pemimpin di Jakarta, Suatu peristiwa, Yang baru diketahui oleh Mr. Ahmad Soebardjo pukul 08.00 paginya.
Mr. Soebardjo : Apakah Saudara tahu keberadaan Soekarno dan Bung Hatta ?
Wikana : Maaf, saya tidak tahu, Bung.
Mr. Soebardj : Katakanlah kepadaku dimana mereka sekarang, dan aku akan menjamin keselamatan mereka ketika kembali ke Jakarta, dan aku akan menjamin kemerdekaan untuk kalian esok harinya.
Sudiro : Akankah Anda bersumpah untuk itu ?
Mr. Soebardjo : Kau bisa percaya padaku, Nak
Wikana : Baiklah, mereka ada di Rengasdengklok.

Akhirnya, Salah satu pemuda bernama Yusuf Kunto, Mengantarkan Mr. Ahmad Subardjo, Beserta sekertaris pribadinya, Sudiro, Menjemput Bung Hatta dan Bung Karno, Di kota Rengasdengklok. Sementara itu, Perdebatan berlangsung seru, Rengasdengklok menjadi saksi bisu, Perundingan antara pemuda, Dan golongan tua, Untuk memproklamirkan segera, Kemerdekaan Negara tercinta.

SCENE V Perundingan dengan Soekarno di Rengasdengklok
Soekarno : Nah , jelaskan sekarang mengapa kalian membawa kami kesini.
Chairul Shaleh : Maafkan kelancangan kami, Bung . Ini demi keselamatan Anda.
Darwis : Kami ingin membicarakan masalah proklamasi kembali.
Moh. Hatta : kami sudah katakan kepada kalian, masalah kemerdekaan akan dibicarakan dalam sidang PPKI
Darwis : Mengapa menunggu hasil sidang PPKI, kalau kita bisa bergerak dengan kekuatan sendiri ?
Sukarni :PPKI itu bentukan Jepang, Bung. Kami ingin memproklamasikan kemerdekaan tanpa campur tangan dari Jepang.
Darwis : Kita pasti bisa, Bung!

Di Rengasdengklok selesailah perundingan, Akan kembali ke Jakarta semua golongan, Dengan satu kesepakatan, Tanggal 17 Agustus akan diproklamirkan kemerdekaan, Di bulan suci,bulan ramadhan.
Di rumah Laksamana Tadashi Maeda seorang perwira tinggi, Dirumuskan teks proklamasi, Disaksikan tiga pemuda Sudiro, BM Diah dan Sukarni, Sukarno, Moh.Hatta dan Ahmad Subardjo merumuskan dengan sepenuh hati, Naskah diketik, Oleh Sayuti Melik, Dan bendera merah putih, Di jahit oleh ibu Fatmawati, Saatnya nanti, Setelah pembacaan teks proklamasi, Diambil oleh Suhud dari baki, Dikibarkan oleh Latief, seorang prajurit laki laki, Dan lagu Indonesia raya mengiringi.
Jumat, Di bulan ramadhan penuh hikmat, Jam 10 pagi 17 Agustus 1945, Di jalan pegangsaan timur no. 56 Jakarta Upacara berlangsung sederhana, Semua pemuda, Berdiri dengan gagah, Siap mendengarkan Sukarno berbicara, Di damping oleh Moh. Hatta.
(Sukarno maju mendekati mikrofon)
Saudara-saudara sekalian ! Saya telah minta Saudara hadir disini, untuk menyaksikan peristiwa maha penting dalam sejarah bangsa kita. Berpuluh-puluh tahun kita bangsa Indonesia telah berjuang umtuk merdeka. Bahkan telah beratus-ratus tahun lamanya, gelombang aksi kita tidak putus dalam berjuang untuk memerdekakan negeri ini. Kita jatuh bangun menyusun kekuatan untuk menggapai cita-cita Indonesia bebas dari penjajahan bangsa lain. Semalam, kami para pemuka-pemuka rakyat Indonesia dari berbagai penjuru bergabung untuk memusyawarahkan dan permusyawaratan itu seiya-sekata berkata : inilah saatnya bagi kita untuk mengobarkan api revolusi kemerdekaan Indonesia. Saudara sekalian ! Dengan ini kami menyatakan kebulatan tekad itu. Dengarkanlah proklamasi kami :

PROKLAMASI

Kami bangsa Indonesia dengan ini menyatakan Kemerdekaan bangsa Indonesia. Hal-hal yang mengenai pemindahan kekuasaan dan lain-lain, diselenggarakan dengan cara saksama dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya

Jakarta, hari 17 bulan 8 tahun 45
“Atas nama bangsa Indonesia”
Soekarno-Hatta

Demikianlah saudara-saudara! Kita sekarang telah merdeka. Tidak ada satu ikatan lagi yang mengikat tanah air kita dan bangsa kita! Mulai saat ini kita menyusun Negara kita! Negara Merdeka. Negara Republik Indonesia merdeka, kekal, dan abadi. Insya Allah, Tuhan memberkati kemerdekaan kita itu“.
Para pemuda : Merdeka! Merdeka!Merdeka!
(semua maju dan menyanyikan lagu “syukur”)
PEMERAN :
Penjajah 1                        Priyanto               Pribumi 1             – Anti
Penjajah 2                        Prisma  Pribumi 2             – Septi
Penjajah 3                        Bidin      Pribumi 3                          Diky
Pribumi 4                          Bagio
Pribumi lain –

Ir. Soekarno                    Arya       Moh. Hatta         – Danu
Sutan Sjahrir                   Andik    Darwis  – Zaky
Sukarni –             Adhim   Ahmad Soebarjo              – Ilham
Chairul Saleh                   Erik         Wikana              Arie
Fatmawati                        Tina        Narator                             Devi

PERLENGKAPAN :
             Bendera besar : 3
             Tongkat : 3
             Bendera Kecil : seadanya
             Saus Merah encer di dalam plastik kecil : 1
             Pacul buatan dari kerdus : 3
             Senjata “                                                        “ : 2

KOSTUM UNTUK PENTAS SENI (DICARI SENDIRI DAN BOLEH MEMBANTU)
Penjajah 1,2,3 : PNS dan fantofel
Sukarni :PNS dan fantofel dan berkopya
Chairul Saleh :Jas hitam, hem putih, celana kain, sepatu fantofel,
Fatmawati :Kebaya dan kain sewek bagus
Pribumi laki-laki:Kaos Putih Polos, Celana guru
Moh. Hatta         :Jas hitam, hem putih, celana kain, sepatu fantofel, kacamata bulat
Pribumi Perempuan:Kebaya dan kain sewek biasa
Darwis :Hem polos celana kain, sepatu fantofel
Ir. Soekarno :Jas putih,Hem putih, dasi, dan Jelana Putih sepatu fantofel, kopya polos
Ahmad Soebarjo :Jas hitam, hem putih, berdasi, dan fantofel
Sutan Sjahrir :Jas hitam, hem putih, berdasi, dan fantofel
Wikana :Hem polos celana kain, sepatu fantofel
















Teks lain
omfizi
HOME

Dialog Makrifat Fatmawati dengan Soekarno sebagai Ide Gagasan Kelahiran Merah Putih
03:26


Fatmawati Sedang Menjahit Bendera Pusaka Indonesia  "Merah Putih" semasa hidupnya

Pernikahan Fatmawati dengan Bung Karno sudah janji lauhul mahfudz dan skenario Allah. Bung Karno menorehkan sejarah panjang dalam upaya memerdekakan Indonesia, dari pembuangan hingga kudeta perang oleh agresi para penjajah. Pada tahun 1944, setahun sebelum Proklamasi Kemerdekaan dikumandangkan Soekarno-Hatta, Jepang telah menjanjikan kemerdekaan Indonesia.

Tahun 1944 musim semi, dalam keheningan malam, Bung Karno bangun dari lelap tidur istirahatnya, lalu mencicipi makanan diatas meja makan, dan menarik sebatang rokok cerutunya. Tiba-tiba Fatmawati muncul dari belakang dan keluar dari kamar menghampir sang suami. Fatmawati memulai pembicaraan “ayah... apa jang dirisaukan?’. Tanya Fatmawati sambil memeluk Bung Karno dari samping tempat duduknya.

Kemudian Bung Karno berkata “setelah akoe istirahat sejak poekoel 10.00 hingga bangoen dari lelapkoe poekoel 11.20 tadi, akoe melihat cahaya dalam mimpikoe dan gemoelai rakyat berbondong-bondong, membawa sepoecoek pesan soerat kepadakoe, laloe mereka berkata “Dokoeritsoe shimashita / merdeka”. Cerita Bung Karno kepada Fatimah.

Fatimah tidak mau panjang lebar menanyakan perihal tafsir mimpinya itu, dengan mengajak Bung Karno dan memberi semangat “ayah... besok pagi tahrim, ayah.. bertemoe banyak tamoe. Oentoek mengerti isi mimpi, kita haroes sholat istikharoh bersama, goesti Allah pasti memberi jawaban’. Usul Fatmawati kepada Bung Karno. Tak lama kemudian beranjak dari tempat duduk. Bung Karno dan Fatimah bersegera diri mengambil air wudhu. Mereka berdua melaksanakan sholat Istikharoh.

Menurut penuturan Fatmawati, saat itu Bung Karno mengadahkan tangganya ke atas langit dan berdoa seperti ini;

“Ya Allah, Toehan maha kasih, Engkaoe akan merahmati bangsa ini, bangsa yang akan berdiri diatas riboean sajak rakyat dan joetaan boedaya bernaoeng dibawahnya. Ya Allah,,,, restoeilah bangsa ini oentoek merdeka. Berilah kekoeatan padakoe, keluargakoe dan persatoekanlah rakjat dalam mengobarkan oesiran-oesiran pendjadjah”. Begitu doa Bung Karno yang diaminkan oleh Fatmawati.

Selesai berdoa, Bung Karno dan Fatmawati beranjak untuk istirahat. Sebelum mereka lelap, sempat pula terjadi dialog yang sangat romantis namun penuh harapan akan nasionalisme dan kemerdekaan. Mungkin dialog itu sebuah makrifat malam yang lahir dari gagasan ranjang dan warna kesukaan.

Betapa tidak, dialog makrifat malam itu mencerminkan bahwa Indonesia itu sebagai jawaban Allah atas istikharoh berjamaah Bung Karno bersama Fatmawati. Tentu membuat dunia semakin tau bahwa Indonesia lahir dari rahim Fatmawati. Dengan nada romantis, Bung Karno berkata “Fat sadjang, warna kesoekaan moe apa?”. Tanya Bung Karno sambil menatap mata Fatmawati yang sedang membaringkan kepalanya ke bantal tidur.

Lalu Fatmawati menjawab “akoe soeka warna merah, tetapi ayahkoe (Hasan Din) seorang Moehammadijah, sering bercerita kalaoe kesoekaanja doea warna hijaoe-merah”. Jawab Fatmawati. Kemudian, Bung Karno bertanya “apa arti djang dikandoeng dari warna kamoe soekai sadjang?”.

Fatmawati menjawab “warna merah miliki doeble arti, kesatoe; memboeat wanita cantik dan keindahan terpancar, kedoea; kecerdikan, berani, dan semangat. Kalaoe saja warna djang koe pakai hijaoe, maka miliki satoe arti kesedjoekan. Warna hidjaoe kata ajahkoe (Hasan Din) disoekai nabi”.

Lalu Fatmawati bertanya kembali kepada Bung karno “ayah soeka warna apa ?” Bung Karno menjawab singkat “warna poetih sajang?” jawabnya. Fatmawati bertanya lagi “apa arti dari warna djang ajah soekai itoe?”. Tak lama kemudian Bung Karno menjawab “warna poetih ciri-ciri bersih, soeci dan bekerja oentoek rakjat”. Jawab Bung Karno.

Tetapi tak kalah juga untuk menyingkap misteri warna yang disukai Bung karno itu. Lalu bertanya “apa rahasia, kenapa ajah semoea badjunja warna poetih, satoe hitam jas berkelblits, celana poetih?”. Tanya Fatmawati. Kemudian Bung Karno memberi jawaban yang sangat mesra dan penuh janji batin akan kemerdekaan Indonesia, bahwa Bung Karno yakin kalau Indonesia akan lahir dari seorang rahim ibu pertiwi yang ada di sampingku saat ini.

Bung Karno menjawab pertanyaan Fatmawati “sajang, akoe telah berjanji padamoe melaloei loekisan djang koe boeat sendiri, beraroma wangi haroem toedoeng merah berbaloet garis poetih, saat akoe jatoeh cinta padamoe sajang, aku katakan saat itu kepada moe, “wahai dikaoe Fat (Fatimah), engkaoe akan bersamakoe nanti dan mendatang, parasmoe memancarkan cahaya merdeka, menoentoen dirikoe bangkit gelora. Fat, akoe boeatkan loekisan ini oentoek moe, koe loekiskan parasmoe yang bercahaya kemilaoe itoe, akoe pasang toedoeng merah berbaloet garis poetih dalamnya, ini pertanda cintakoe putih bersih, vivere colomente”. Kata Bung Karno penuh mesra kepada Fatmawati.

Kemudian, Bung Karno mulai masuk diskusi pada bendera dan nama Indonesia. Namun, Fatmawati sudah tak kuat untuk melanjutkan diskusi. Akhirnya Bung karno memutuskan diskusi itu esok malamnya. Mereka berdua menikmati istirahat malam. Hingga pagi sekitar jam 10.30 Syahrir dan Moh. Hatta datang ke kediaman Bung Karno untuk melakukan perbincangan terkait situasi dan kondisi rakyat Indonesia saat itu, dimana di wilayah timur Indonesia bagian pulau Sumbawa dan Makassar terjadi perampokan rempah-rempah dan hasil panen para petani yang kemudian diangkut oleh Jepang dengan kapal menuju bagian Barat Indonesia.

Sehari bersama Sutan Syahrir dan Moh. Hatta melakukan pertemuan disemua tempat yang mereka rencanakan. Mengulik sejarah dalam bejana penjajah. Syahrir mendesak pemuda segera revolusi dan lakukan perlawanan. Kemudian, diwaktu malam tiba, Bung Karno kembali kerumahnya. Menjelang pukul 09.00 malam, Bung Karno segera beranjak untuk istirahat bersama Fatmawati.

Bung Karno kembali memulai cerita kepada Fatmawati tentang perkembangan situasi dan kondisi. Bung Karno berkata “Fat sajang,..... Jepang soedah bolehkan rakjat pakai simbol-simbol kemerdekaan, Fat.... sepertinja kita haroes boeat bendera dan ciptakan lagoe kebangsaan, soepaja kita poenya cirihas merdeka”. Cerita Bung Karno pada Fatmawati.

Lalu Fatmawati mencoba berdiskusi dengan Bung Karno, ia berkata “ayah,,,, warna apa jang akan mendjadi bendera kemerdekaan, soepaja akoe mendjahitnja lebih cepat”. Tanya fatmawati.

Kemudian, Bung Karno meyakinkan Fatmawati dengan berkata “Fat... sajang... boekankah kita berdoea soedah bercerita soal warna dan kemesraan maupun kesukaan, akoe oesoel agar warna bendera engkaoe jang pikirkan”. Usul Bung Karno membuat Fatmawati segera memutar otak untuk memberi jawaban kepada Bung Karno.

Dengan tegas dan tangkas, usul Fatmawati segera di diajukan ke Bung Karno “ayah....... bendera kemerdekaan sangat bagoes sekali kalaoe merah poetih”. Demikian jawaban Fatmawati. Sementara Bung Karno sendiri pertimbangkan usulan Fatmawati. Lalu, Bung Karno berkata “Fat... sajang.... akoe melihat moe soenggoeh dalam maknanja, batinkoe berkata kaoe mampoe memboeat koe terpana, soenggoeh racikan warna djang kaoe oesoelkan terkandoeng dalam badan seloeroeh djagat raja priboemi.. kamoe hebat sajang”. Begitu tanggapan Bung Karno terhadap jawaban Fatmawati.

Tanpa harus menunggu perintah Bung Karno, seorang Fatmawati langsung saja berfikir, pertimbangkan dan berbicara dalam batinnya. Warna merah harus diatas, warna putih dibawah. Jadi kalau disebut merah putih. tetapi, bagi Fatmawati tak mudah mendapatkan kain untuk bendera.

Malam itu juga, Fatmawati membuka lemari pakaiannya. Ia menemukan selembar kain merah yang merupakan tudung kesukaannya. Sementara kain warna putih diambil didalam lemarinya. Lalu malam itu juga di jahid apa adanya, bendera itu hanya sekitar 50 centimeter. Kemudian keesokan harinya diperlihatkan kepada Bung Karno, ia katakan “ayah.... ini hasil jahitan djang koe boeat, begini akoe menyoesoennja warna merah diatas dan warna poetih dibawah, jadi bendera merah poetih”.

Begitu bendera diperlihatkan. Lalu Bung Karno langsung komentar; “soenggoeh loear biasa engkaoe wahai istrikoe, bahwa engkaoelah jang menyoesoen dan melahirkan bangsa ini, dimana simbol bendera berasal dari rahim iboe pertiwi djang gagah berani dan oelet. Iboe pertiwi dikandoeng badan, itu kobaran semangat koe”.

Dari Rahim Fatimah, Indonesia Lahir Merdeka

Fatmawati tercatat dalam sejarah sebagai wanita penjahit bendera pusaka. Ia merupakan perempuan penting dalam sejarah kemerdekaan Indonesia. Fatmawati tidak membuat bendera merah putih sekali jadi. Sebelum 16 Agustus 1945, ia sudah menyelesaikan sebuah bendera merah putih.

Namun ketika diperlihatkan ke beberapa orang, bendera tersebut dinilai terlalu kecil.

Untuk persiapan kemerdekaan tahun 1945 sekitar bulan januari – februari, Fatmawati sudah mulai menjahit bendera merah putih yang baru dan lebih besar. Fatmawati memanggil seorang pemuda, Chaerul Basri, untuk menemui Shimizu, seorang pembesar Jepang. Shimizu adalah pimpinan barisan Propaganda Jepang, yaitu Gerakan 3A. Dia juga ditunjuk sebagai perantara dalam perundingan Indonesia-Jepang pada tahun 1943.

Karena Shimizu rajin mendengarkan uneg-uneg, pikiran, dan pendirian orang Indonesia saat itu, lebih bisa diterima bahkan dianggap ‘teman’. Apalagi, dia juga mampu berbahasa Indonesia, meski terpatah-patah. Shimizu lantas menghubungi seorang pembesar Jepang lainnya yang mengepalai gudang di bilangan Pintu Air, di depan eks Bioskop Capitol. Kain itu oleh Fatmawati dijahit menjadi sebuah bendera berukuran 2x3 meter.

Pada 1977, Shimizu ke Indonesia. Dia bertemu Presiden Soeharto dan sejumlah tokoh yang pernah dikenalnya. Dalam sebuah pertemuan, Fatmawati kemudian menceritakan kain bendera pusaka dari Shimizu. Pada 1946-1968, bendera tersebut hanya dikibarkan setiap hari ulang tahun kemer dekaan. Sejak 1969, bendera itu tak dikibarkan lagi dan disimpan di Istana Merdeka. Bendera itu sempat sobek pada kedua ujungnya. Ujung berwarna putih sobek 12X42 cm, sedangkan ujung berwarna merah sobek 15x47 cm. Ada pula bolong-bolong.

Tahun 1945 Perang Dunia sudah hampir mencapai akhirnya, kekalahan Jepang di berbagai medan pertempuran semakin mengobarkan semangat Indonesia untuk mencapai kemerdekaannya. Pada tanggal 16 Agustus 1945 kegaduhan terjadi diluar rumah Bung Karno, para pemuda yang sudah “membawa” Moh. Hatta dan Soetan Sjahrir berteriak-teriak memanggil nama Bung Karno. Peristiwa ini dikemudian hari kita kenal dengan nama peristiwa Rengasdengklok. Peristiwa ini adalah salah satu momentum kemerdekaan Indonesia.

Bendera yang sudah dijahit tangan oleh Fatmawati diserahkan untuk kemudian dikibarkan oleh para pemuda di Rengasdengklok sebagai persiapan proklamasi kemerdekaan Indonesia keesokan harinya 17 agustus 1945.

Setelah kemerdekaan Indonesia, ternyata kehidupan Fatmawati sebagai Ibu Negara masih jauh dari kata tenang. Agresi Militer Belanda datang lagi, Fatmawati yang di Yogyakarta harus berpisah dengan Bung Karno yang diasingkan di Pulau Bangka. Disaat itulah Fatmawati melahirkan putri pertamanya, Megawati Sukarno Putri yang di kemudian hari akan kita kenal sebagai Presiden Indonesia yang keempat. Setelah kelahiran Megawati, beliau dikarunia berturut-turut dua putri lagi yaitu, Rachmawati dan Sukmawati. Baru setelah itu pada tahun 1952, anak bungsu Sukarno dan Fatmawati lahir yang diberi nama Guruh Sukarno Putra.


Penyelamatan Sang Saka merah Putih

Adalah tangan Fatmawati sendiri yang menjahit dua kain menjadi dwiwarna: Merah Putih. Subuh tanggal 17 Agustus 1945, dalam keletihan yang teramat sangat, Bung Karno pulang dalam keadaan menggigil. Malarianya kumat. Terlebih dua hari dua malam ia tidak tidur. Hanya air soda dan air soda yang diminum untuk menyegarkan mata. Fatmawati yang menyambutnya dengan cemas, melihat betapa Bung Karno teramat pucat.

Tanpa banyak kata, Bung Karno bukannya merebahkan badan, melainkan berjalan menuju meja tulis. Diambilnya kertas dan pena, lalu ia menulis berlusin-lusin surat. Seperti dituturkan kepada Cindy Adams, Sukarno mengisahkan bahwa Fatmawati cukup mengerti gejolak hati Sukarno, sehingga membiarkannya tetap bekerja. Tubuhnya menggigil diserang malaria, tetapi jiwanya jauh lebih bergejolak menyongsong Indonesia merdeka sebentar lagi. (Ibid roso daras, 2016)

Fatmawati sendiri bukannya bugar. Ia mengikuti benar hari-hari, jam-jam menjelang proklamasi. Dan itu sungguh melelahkan. Termasuk, ia harus menyiapkan bendera merah putih untuk keperluan upacara kemerdekaan Indonesia 17 Agustus 1945. Bendera jahitan tangan Fatmawati itu pulalah yang dikibarkan pada momentum proklamasi. Bendera itu pula yang kemudian menjadi pusaka negara: Sang Saka Merah Putih. Nilainya begitu sakral. Sejak dikibarkan di Pegangsaan Timur 56, bendera itu pantang diturunkan. Pasukan Berani Mati yang dibentuk sehari setelah proklamasi, berjaga 24 jam, siap menghadang tentara Jepang jika mereka datang hendak menurunkannya. Tonggak kemerdekaan sudah ditancapkan, sang merah putih sudah berkibar, nyawa-nyawa jiwa merdeka siap menjaganya agar tetap berkibar dan terus di angkasa Indonesia. Satu hari, dua hari, satu pekan, dua pekan… Sang Merah Putih tetap berkibar.

Sementara itu, pasukan Sekutu dikabarkan mulai mendarat di sejumlah pantai dan kota-kota Indonesia. Detik-detik perang mempertahankan kemerdekaan, sudah di depan mata. Sukarno sudah menghitung situasi itu. Surat-surat yang ditulisnya di subuh 17 Agustus 1945, antara lain berisi instruksi kepada para pemimpin pergerakan. (Ibid roso daras, 2016)

Kepada yang satu, diperintahkan untuk menghimpun kekuatan untuk kepentingan pertahanan. Kepada yang lain, Sukarno memerintahkan agar mengambil alih pemerintahan mulai dari tingkatan desa. Dan surat lain berbunyi, “Besok Saudara akan mendengar melalui radio, bahwa kita sekarang telah menjadi rakyat yang merdeka. Begitu Saudara mendengar berita itu, bentuklah segera komite kemerdekaan daerah di setiap kota dalam daerah Saudara.” Waktu melintas tahun, ketika Sekutu benar-benar mendarat dan menumpas Indonesia merdeka. Ia menangkap, menahan, bahkan membunuh para pejuang kita. Sukarno dan keluarga yang tak lagi aman di Jakarta, hijrah ke Yogyakarta. Dengan demikian pindah pula pemerintahan pusat dari Jakarta ke Yogyakarta. Bagaimana nasib bendera pusaka yang dikibarkan pada tanggal 17 Agustus 1945?. (Ibid roso daras, 2016)

Sejarah selalu mencatat peristiwa-peristiwa bersejarah. Sang bendera pusaka, adalah sejarah yang mutlak harus dicatat. Dalam situasi negara chaos, menghadapi pertempuran melawan Sekutu di satu sisi, serta menghadapi perundingan di sisi yang lain, ternyata ada sekuel yang menarik tekait bendera pusaka kita. Adalah intelijen Sekutu yang tercium tengah mengendus-endus keberadaan bendera pusaka. Barangkali, upaya mereka menenggelamkan bahtera Indonesia merdeka, tidak afdol kalau tidak bersamaan dengan penguburan sang pataka.

Karenanya, pencarian bendera merah putih –untuk dimusnahkan– berlangsung di antara peperangan dan perundingan. Sang dwi warna, rupanya sudah diamankan oleh para pejuang kemerdekaan. Ia disimpan, disembunyikan, dilindungi dengan nyawa. Tidak hanya itu, sistem penyimpanan pun dibuat mobile, bergerak terus dari satu rumah ke rumah lain, dari satu tempat ke tempat lain. “Pemunculan” sang merah putih berhasil direkam oleh Dr. Soeharto, dokter pribadi Bung Karno pada April 1949. (Ibid roso daras, 2016)

Soeharto sendiri tidak tahu, di mana sang merah putih antara kurun 1945 – April 1949. Yang jelas, malam itu, April 1949 ia kedatangan tami misterius bernama Muthahar. Tokoh ini di kemudian hari sempat menjabat duta besar Republik Indonesia serta pemimpin Kwartir Nasional Pramuka. Malam itu, ia datang dengan menyelinap, takut tercium Nica. Di tangannya terpegang dua carik kain, merah di kanan, putih di kiri. Itulah Sang Saka Merah Putih, yang untuk tujuan pengamanan, telah dilepas jahitannya, dan diamankan sedemikian rupa sebagai sebuah benda maha penting bagi tonggak berdirinya republik. Muthahar, malam itu, menitipkan sang dwi warna kepada Dr. Soeharto. Mendapat amanat penting, Dr. Soeharto menunaikannya dengan sangat hati-hati. Ia menyimpan potongan kain merah di satu tempat, dan kain putih jauh di tempat lain. Maksudnya, menjaga kemungkinan penggeledahan Nica. (Ibid roso daras, 2016)

Tercatat, tidak lama sang merah putih disimpan di rumah Dr. Soeharto di Jl. Kramat 128, Jakarta Pusat. Beberapa malam berikutnya, Muthahar kembali datang untuk mengambil dua potong kain pusaka tadi, dan memindahkannya ke tempat berbeda. Entah berapa kali, puluh kali, ratus kali Muthahar menyelinap, mengendap, memindahkan tempat persembunyian bendera proklamasi. Satu tekad dikandung badan, benda pusaka itu tidak boleh jatuh ke tangan Belanda, dan akan tetap menjadi pusaka kita selama-lamanya.

Tuhan Maha Besar. Sang merah putih, meski tak lagi semerah darah dan seputih melati, tetapi dia tetap utuh hingga hari ini. Merahnya yang memudar digerogoti waktu, tetap menyiratkan tekad berani semerah darah. Meski putihnya menguning diretas waktu, tetapi putihnya tetap menyiratkan tekad suci seputih melati. Dan dia, adalah perlambang Ibu Pertiwi, yang akan kita bela sampai mati.

Penulis: Rusdianto Samawa












Teks lainya 3

Naskah Drama IPS

Minggu, 31 Mei 2015
Naskah Drama IPS
Tokoh:
Ir. Soekarno :                                    Suwiryo (Walikota Jakarta) :
Hatta :                                                Ibu Fatmawati :
Rakyat :                                              Sudiro (Pemimpin Barisan Pelopor) :
Dr. Muwardi  :                                  Wilopo :
Latief :                                                Para Pemuda :
Suhud:                                                Narator:
Dr. Buntaran Marmoatmojo :                   
Arifin Abdurrahman:                      pasukan jepang:

Naskah Drama Proklamasi Kemerdekaan Indonesia
Narator: Pada tanggal 16 agustus 1945 para tokoh nasional telah merencanakan susunan pembacaan teks proklamasi kemerdekaan Indonesia yang dilaksanakan pada esok hari tepat jatuh pada tanggal 17 agustus 1945. Pada siang hari saat di kediaman rumah Soekarno, Soekarno yang tengah sakit sedang berbincang dengan istrinya Fatmawati di kamarnya…
Soekarno: “Alhamdulillah akhirnya semua berjalan dengan lancar. Matur nuwun ibu telah menemani aku di saat-saat yang cukup menguras pikiran ini.”
Fatmawati: *Sambil memberikan minuman kepada Soekarno* “Iya, matur nuwunlah kepada Gusti Allah yang telah memberikan jalan pada bangsa kita untuk memproklamasikan kemerdekaan. Oh iya pak, apakah kalian sudah merencanakan bagaimana proklamasi besok akan berlangsung?”
Soekarno: “Sudah, kita akan melaksanakan upacara bendera, yang nanti akan di iringi lagu Indonesia Raya karya Bung Supratman.”
Fatmawati: “Bukankah kita belum mempunyai bendera? Lantas bagaimana?”
Soekarno: “Ya ampun, Bapak sampai lupa, Bu. Kalau begitu bagaimana jika Ibu saja yang menjahitkan bendera?”
Fatmawati: “Tapi yang kain ibu punya hanya kain merah dan putih. Apa tidak apa-apa?”
Soekarno: “Tentu saja. Buatlah bendera yang sederhana, yang penting kita sudah berusaha untuk menyediakannya.”
Fatmawati: “Yasudah kalau begitu diminum dulu obatnya. Ibu jahit dulu ya benderanya, bapak istirahat saja.”
Soekarno: “Baiklah, oh iya bu tolong bangunkan aku pada sore hari ya. Ada urusan yang harus aku selesaikan mengenai teks proklamasi.”
Fatmawati: “Baiklah, Pak.”
Narator: Saat Soekarno sedang istirahat, sang istri sedang menjahit bendera dengan ukuran 2 x 3 meter menggunakan mesin jahitnya.
Fatmawati: “Alhamdulillah, selesai juga. Aku simpan saja di atas meja. Lebih baik aku bangunkan saja bapak karena sudah sore. Pak, bangun sudah sore.”
Soekarno: *wajah mengantuk* “Oh iya bu, aku siap-siap dulu.”
Narator: Setelah Soekarno bersiap-siap, Soekarno berpamitan pada istrinya..
Soekarno: “Aku pamitan dulu ya bu, assalamualaikum.”
Fatmawati: “Waalaikum salam..”
Narator: Pagi hari tanggal 17 agustus 1945 pukul 04.30 WIB para pemimpin nasional dan para pemuda kembali ke rumah masing-masing untuk mempersiapkan penyelengaraan pembacaan teks proklamasi kemerdekaan Indonesia setelah selesai merumuskan dan mengesahkan teks proklamasi di rumah Laksamana Maeda. Pembacaan teks proklamasi akan diselengarakan di lapangan Ikada, para rakyat amat senang mendengar berita itu dan membanjiri lapangan Ikada namun pasukan Jepang telah mencium isu berita tersebut akhirnya lapangan Ikada dijaga ketat oleh pasukan Jepang. Setibanya di lapangan Ikada…
Rakyat: “Ayo kabeh kita kudu cepet kesusu menyang lapangan Ikada kanggo Witness maca teks proklamasi kamardikan Indonesia! Supaya kita bisa bebas saka torture invaders!”
Rakyat: “Ayoo…..!!!”
Narator: Para rakyat tidak mengetahui bahwa di lapangan ikada dijaga ketat oleh pasukan Jepang…
Rakyat: “Mengapa kene ada tentara Jepang? Apakah Presiden kita menyuruhnya untuk berjaga-jaga?”
Rakyat: “Ah, ora mungkin! Jepang itu musuh kita, jadi mana mungkin Ir. Soekarno menyuruh pasukan Jepang untuk berjaga-jaga. Bagaimana kalau kita menunggu Barisan Pelopor Sudiro saja?”
Narator: Beberapa menit kemudian para barisan pelopor Sudiro telah datang…
Sudiro: “Mengapa kalian ada disini? Apakah kalian ingin menggagalkan rencana kita? “
Pasukan Jepang: “Hahahaha.. Memang kita tidak ingin kalian merdeka begitu saja!”
Sudiro: “Memang kalian tidak punya hati! Kalian masih saja ingin melihat rakyat Indonesia sengsara akibat ulah kalian. Memang kejam kalian semua!!”
Narator: Setelah Sudiro marah ia langsung bergegas melaporkan kepada Muwardi (Kepala Keamanan Soekarno).
Sudiro: *Dengan kelelahan “Assalamualaikum…”
Muwardi: “Waalaikum salam, ada apa ini? Mengapa kau kecapaian gitu? Tenang dulu, ambil napas..”
Sudiro: “Begini pak, di lapangan ikada ada pasukan Jepang berjaga-jaga dengan membawa senjata.”
Muwardi: “Hahaha, kau salah mendengar ya? Ternyata pembacaan teks proklamasi akan diselenggarakan di rumah Soekarno Jalan Pegangsaan Timur No 56. Yasudah kalau begitu kamu sampaikan pada rakyat dan para pemuda untuk datang di rumah Soekarno, tetapi jangan sampai pasukan Jepang mendengarnya.”
Narator: Akhirnya Sudiro kembali ke lapangan ikada untuk menyampaikan berita bahagia ini kepada rakyat dan kelompok muda. Rakyat dan kelompok muda tiba di kediaman Soekarno..
Dr. Muwardi: “Dimana Latief Hendraningrat?”
Latief Hendraningrat: “Saya disini, ada apa tuan memanggilku?”
Dr. Muwardi: “Tolong kamu berjaga-jaga di depan halaman rumah agar pasukan Jepang tidak mengganggu rencana kita.”
Latief Hendraningrat: “Baik, tetapi bolehkah kalau Arifin Abdurrahman ikut berjaga-jaga?”
Dr. Muwardi: “Silahkan, boleh saja lebih banyak orang itu lebih baik.”
Latief Hendraningrat: “Hey, Arifin bantu aku untuk berjaga-jaga di halaman depan ya. Oh iya ajak juga pasukan Peta kan kalau semakin banyak yang berjaga keamanan semakin ketat, iya tidak?”
Arifin Abdurrahman: “Yasudah, kalau begitu. Hahaha bisa saja kau kata-katanya, yasudah ayo kita susun strateginya.”
Narator: Latief dan Arifin beserta pasukan Peta telah berjaga-jaga di sekitar rumah Soekarno. Suasana kediaman Soekarno semakin sibuk, persiapan peralatan dalam pembacaan teks proklamasi segera disiapkan hingga wakil walikota Jakarta ikut mempersiapkan..
Suwiryo: “Mr. Wilopo tolong siapkan mikrofon dan pengeras suara, segera!”
Mr. Wilopo: “Baik! Tetapi dimana aku harus mencarinya Pak?”
Suwiryo: “Kamu meminjam alat tersebut kepada Gunawan di Toko Radio Satria di Salemba Tengah 24, cepat!”
Mr. Wilopo: “Baik pak!”
Narator: Sesampainya di Toko Radio Satria di Salemba Tengah 24….
Mr. Wilopo: “Nuwun sewu….”
Gunawan: “Iya, ada apa tuan kemari? Apakah ingin membeli barangku?”
Mr. Wilopo: “Bukan tuan, aku kemari ingin meminjam mikrofon dan pengeras suara. Apakah boleh?”
Gunawan: “Buat apa? Jika untuk keperluan yang tidak penting maaf aku tak bisa meminjamkannya.”
Mr. Wilopo: “Untuk mengumandangkan teks proklamasi kemerdekaan Indonesia tuan yang diselenggarakan di kediaman Soekarno. Jadi apakah tuan boleh meminjamkannya?”
Gunawan: “Oh, tentu saja kalau untuk itu aku perbolehkan. Sebentar aku ambilkan, tuan silahkan duduk.”
Narator: Setelah beberapa menit..
Gunawan: “Ini alat yang engkau minta. Oh, iya ini aku bawa seseorang jika ada kerusakan panggil saja dia yang suruh memperbaikinnya.”
Mr. Wilopo: “Terimakasih tuan.”
Narator: Sesampainya Mr. Wilopo di kediaman Soekarno….
Mr. Wilopo: “Nuwun sewu, pak ini mikrofon dan pengeras suaranya.”
Sudiro: “Yasudah letakkan ditempat itu!”
Narator: Mr. Wilopo segera menempatkan mikrofon dan pengeras suara pada tempatnya.    Kemudian Sudiro memanggil Suhud..
Sudiro: “Suhud! Suhud! Kesini kau!”
Suhud: “Iya, Pak. Ada apa memanggilku?”
Sudiro: “Tolong kau carikan satu tiang bendera, cepat!”
Suhud: “Baiklah, pak! Dimana ya aku harus mencarinya? Oh iya dibelakang rumah ini kan aku lihat sebatang bambu, aku pakai itu saja.”
Narator: Suhud mengambil bambu tersebut lalu membersihkannya dan memberi lubang untuk memasukkan tali bendera. Lalu menancapkannya di dekat teras dan memberikan tali untuk kelengkapan bendera. Menjelang pukul 10.00 WIB datanglah tokoh pejuang diantaranya Dr. Buntaran Marmoatmojo, Ki Hajar Dewantara, Mr. A.A Maramis dan Otto Iskandardinata. Di kediaman halaman Soekarno..
Dr. Buntaran Marmoatmojo: “Bagaimana tuan apakah acaranya sudah dimulai?”
Arifin Abdurrahman: “Belum tuan, tunggu sebentar Bung Karno sedang menunggu Bung Hatta, para tuan silahkan duduk.”
Para pemuda: “Tuan bagaimana ini, kapan dimulainya?! Lelah sekali kita menunggunya. Ayo tuan bilang kepada Soekarno agar cepat dimulai!”
Dr. Muwardi: “Iya tunggu sebentar, aku akan menyampaikan keluhan kalian.”
Narator: Dengan terpaksa Dr. Muwardi menemui Soekarno di kamarnya yang tengah membuat naskah pidato untuk membuka acaranya dan berbincang dengan istrinya..
Fatmawati: “Ini pak benderanya sudah jadi. Oh iya pak, ibu punya ide bagaimana kalau kita beri nama bendera ini “Sang Saka Merah Putih” ?”
Soekarno: *Sambil menulis pidato* “Bagus sekali itu idemu bu, yasudah letakkan saja itu bendera di atas baki aku harus selesaikan teks pidato ini.”
Narrator: Ditengah pembicaraan Soekarno dan Fatmawati terdengar suara….
Dr. Muwardi: “Nuwun sewu maaf, Pak Soekarno hari sudah semakin siang. Mengapa pembacaan proklamasi tidak segera dilaksanakan? Bukankah lebih cepat lebih baik? Lagipula orang-orang sudah menunggu sejak tadi pagi untuk menyaksikan pembacaan proklamasi?”
Soekarno: “Karena Hatta belum datang. Pembacaan proklamasi akan dibacakan kalau Hatta sudah datang. Saya tidak bisa membacakan proklamasi tanpa kehadiran Hatta disamping saya.”
Narator: Soekarno tetap bertindak keras untuk menolak permintaan Dr. Muwardi. Tetapi Dr. Muwardi tetap saja bernekad untuk mendesaknya lagi. Sekali lagi…
Dr. Muwardi: “Tapi Pak, orang-orang sudah tidak sabar lagi untuk menyaksikan pembacaan proklamasi.”
Soekarno: *dengan kerasnya menjawab* “Saya tidak akan membacakan proklamasi kalau Hatta tidak ada. Kalau Mas Muwardi tidak mau menunggu silahkan membaca teks proklamasi itu sendiri!”
Dr. Muwardi: “Tapi Pak…”
Narator: Pada saat itulah terjadi perdebatan yang sengit. Tiba-tiba diluar terdengar suara…
Rakyat: “Bung Hatta datang!”
Narator: Dengan berpakaian putih-putih Bung Hatta langsung menemui Soekarno di kamarnya…
Bung Hatta: “Nuwun sewu.. Maaf Bung aku telat, bagaimana apakah acaranya sudah dimulai?”
Soekarno: “Tidak apa-apa kau datang lima menit sebelum acara dimulai, mari kita menuju tempat yang telah disediakan.”
Narator: Kedua tokoh pejuang nasional tersebut langsung memasuki tempat yang telah disediakan. Rakyat menyambut mereka dengan gembira. Hingga saatnya upacara proklamasi kemerdekaan segera disiapkan. Upacara proklamasi kemerdekaan dilaksanakan tanpa protokol Latief memberikan aba-aba siap kepada seluruh barisan pemuda..
Latief Hendraningrat: “Siaaaaappppp… Grak!!”
Narator: Semua yang ada di tempat tersebut berdiri tegak dengan sempurna hingga suasan menjadi sangat hening ketika Soekarno dan Hatta memasuki tempat tersebut.
Suwiryo: “Silahkan kepada Bung Karno dan Bung Hatta memasuki tempat yang telah disediakan.”
Narator: Soekarno dan Hatta naik ke atas panggung. Soekarno mendekati mikrofon dan dengan lantangnya beliau membacakan pidato singkat sebelum pembacaan teks proklamasi dilaksanakan.
Soekarno: *membacakan pidato*
Saudara-saudara sekalian! Saya telah minta saudara-saudara hadir disini untuk menyaksikan satu peristiwa maha-penting dalam sejarah kita. Berpuluh-puluh tahun kita bangsa Indonesia telah berjoang, untuk kemerdekaan tanah air kita bahkan telah beratus-ratus tahun! Gelombang aksi kita untuk mencapai kemerdekaan kita itu ada naiknya dan ada turunnya, tetapi jiwa kita tetap menuju ke arah cita-cita. Juga di dalam jaman Jepang, usaha kita untuk mencapai kemerdekaan nasional tidak berhenti-hentinya. Di dalam jaman Jepang ini, tampaknya saja kita menyandarkan diri kepada mereka, tetapi pada hakekatnya, tetap kita menyusun tenaga sendiri, tetapi kita percaya kepada kekuatan sendiri. Sekarang tibalah saatnya kita benar-benar mengambil sikap nasib bangsa dan nasib tanah air kita di dalam tangan kita sendiri. Hanya bangsa yang berani mengambil nasib dalam tangan sendiri akan dapat berdiri dengan kuatnya. Maka kami, tadi malah telah mengadakan musyawarat dengan pemuka-pemuka rakyat Indonesia dari seluruh Indonesia. Permusyawaratan itu seia sekata berpendapat bahwa sekaranglah datang saatnya untuk menyatakan kemerdekaan kita.
Saudara-saudara!
Dengan ini kami menyatakan kebulatan tekad itu. Dengarkanlah proklamasi kami:
Proklamasi
Kami bangsa Indonesia dengan ini menyatakan kemerdekaan Indonesia.

Hal-hal yang mengenai pemindahan kekuasaan dan lain-lain, diselenggarakan dengan cara saksama dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya.

Jakarta, 17 Agustus 1945

Atas Nama Bangsa Indonesia

Soekarno-Hatta
Demikianlah saudara-saudara!
Kita sekarang telah merdeka! Tidak ada satu ikatan lagi yang mengikat tanah air kita dan bangsa kita! Mulai saat ini kita menyusun Negara kita! Negara Merdeka, Negara Republik Indonesia – merdeka kekal dan abadi. Insyaallah, Tuhan memberkati kemerdekaan kita itu!
Narator: Setelah disampaikan teks proklamasi kemerdekaan Indonesia maka Negara Indonesia menjadi merdeka. Setelah itu, acara dilanjutkan dengan pengibaran bendera Sang Saka Merah Putih yang dikibarkan oleh Latief dan Suhud. Soekarno dan Hatta perlahan-lahan menuruni anak tangga. Suhud segera mengambil bendera Merah Putih di atas baki, lalu beliau mengikatkan bendera ke tali bendera dengan bantuan Latief Hendraningrat. Bendera Sang Saka merah putih dikibarkan dengan iringan lagu Indonesia Raya..
*Suhud dan Latief berjalan perlahan-lahan dengan membawa bendera merah putih, lalu mengikatnya ke tali bendera dan Suhud memegang ujung bendera untuk dilebarkan sedangkan Latief memberi aba-aba bahwa bendera siap dikibarkan*
Latief: “Bendera Merah Putih siap dikibarkan”
Sudiro: “Semuanya hormat….grak!”
*Para hadirin menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya secara hikmad*

Narator: Semua hadirin termasuk para tokoh pejuang menghormati bendera sampai bendera di puncak tiang. Upacara proklamasi kemerdekaan Indonesia dilakukan secara hikmat. Upacara ditutup dengan sambutan pidato dari Wakil Walikota Jakarta (Suwiryo) dan Dr. Muwardi. Dengan demikian, upacara proklamasi kemerdekaan Indonesia selesai dilaksanakan semua hadirin meninggalkan tempat bersejarah itu. Selesai sudah momen yang sangat bersejarah.























Teks lainya 4
SCENE I : Berita Kekalahan Jepang

Pada tanggal 15 Agustus 1945, Kaisar Hirohito memerintahkan penghentian permusuhan terhadap sekutu, setelah sebelumnya yaitu pada tanggal 14 Agustus 1945 sekutu menjatuhkan bom atom di kota Hiroshima dan Nagasaki. Berita tentang genjatan senjata yang dilakukan oleh Jepang ini disiarkan di radio jepang dari Tokyo. Ternyata siaran tersebut tertangkap di Indonesia dan Sutan Syahrir mendengarnya.

Sutan Syahrir : Apakah kalian sudah mendengar berita kekalahan Jepang ?
Sukarni : Belum, Bung . Benarkah itu ? Apa yang terjadi dengan Jepang ?
Sutan Syahrir : Dari yang kudengar, Sekutu telah menjatuhkan bom di kota Hiroshima dan Nagasaki. Oleh sebab itulah, Jepang melakukan genjatan senjata.
Chairul Shaleh : Kalau begitu, berarti kita harus segera memproklamirkan kemerdekaan.
Sukarni : Benar itu, Jepang sudah tak ada wewenang lagi di negeri kita. Kita harus memanfaatkan momen ini !

SCENE II : Peristiwa Rengasdengklok
Babak 1 : Perdebatan golongan tuan dengan golongan muda
Setelah mendengar berita kekalahan Jepang, Chairul Shaleh segera merencanakan pertemuan dengan anggota golongan muda lainnya untuk membicarakan masalah proklamasi kemerdekaan. Pertemuan ini dilangsungkan di Jalan Pegangsaan Tinur No. 17 Jakarta pukul 20.00 WIB.
Chairul Shaleh : Teman-teman sekalian, sudahkah kalian mendengar berita tentang kekalahan Jepang ?
Wikana : Belum, kawan . Darimana engkau tahu tentang itu ?
Chairul Shaleh : Barusan saya dan Sukarni berkumpul dengan Syahrir, ia mendengar siaran radio Jepang yang mengumumkan berita tentang genjatan senjata itu.
Darwis : Berarti negeri kita sekarang dalam kondisi vacuum of power ?
Chairul Shaleh : Benar. Demikian, saya mengumpulkan kalian semua disini untuk membicarakan masalah itu. Kita harus memanfaatkan situasi ini untuk memproklamirkan kemerdekaan.
Sukarni : Tepat sekali . Kalau begitu, kita harus membagi tugas. Wikana dan Chairul , kalian harus pergi ke kediaman Soekarno untuk menyampaikan kabar ini.Saya dan Bung Darwis akan memerintahkan anggota pemuda lainnya untuk merebut kekuasaan dari Jepang.
Kediaman Soekarno, Jl. Pegangsaan Timur No.56 Jakarta pukul 22.00 WIB. Terjadi Perdebatan serius antara golongan pemuda dengan Soekarno
Wikana : Kita harus memproklamirkan kemerdekaan sekarang , Bung !
Soekarno : Ini batang leherku, seretlah aku ke pojok itu sekarang dan potong leherku malam ini juga ! Kamu tidak perlu menunggu hingga esok hari !
Chairul Shaleh : Tapi ini saat yang tepat, Bung. Jepang sudah kalah oleh Sekutu dan tak ada kuasa lagi di negeri ini. Mengapa harus menunggu ? Rakyat sudah banyak menderita akibat penjajahan ini..
Moh. Hatta : Jepang adalah masa yang silam. Belum lagi kita harus menghadapi Belanda yang hendak kembali berkuasa di negeri ini. Jika Saudara tidak setuju dengan apa yang saya katakan, dan mengira diri Saudara telah sanggup menopang kekuatan sendiri, Mengapa datang pada Soekarno dan memintanya untuk memproklamirkan kemerdekaan?
Chairul Shaleh : Apakah kita harus menunggu janji Jepang untuk memerdekakan bangsa ini ? Kita bisa, Bung . Kita harus bangkit dan memproklamirkan kemerdekaan sendiri . Mengapa harus menunggu janji manis itu ? Jepang sendiri bahkan telah kalah dalam "Perang Suci" nya !
Soekarno : Kekuatan segelintir ini takkan mampu mengalahkan armada perang milik Jepang ! Coba kau perlihatkan padaku, mana bukti kekuatan yang diperhitungkan itu ? Apa tindakanmu untuk menyelamatkan wanita dan anak-anak jika ternyata terjadi pertumpahan darah ? Bagaimana cara kita nanti untuk mempertahankan kemerdekaan ? Coba bayangkan, bagaimana kita akan tegak di atas kekuatan sendiri.
Wikana : Tapi semakin cepat kita memproklamasikan kemerdekaan akan semakin cepat pula kita mengakhiri penderitaan rakyat yang sudah ditanggung selama ini.. Inilah yang sudah ditunggu-tunggu bangsa kita, Bung.
Moh. Hatta : Baiklah. Tapi berikan kami waktu untuk berunding sebentar.
Kemudian para anggota golongan tua yang berada di kediaman Soekarno langsung membicarakan permasalahan tersebut.
Moh. Hatta : Bagaimana ini ? Para pemuda menuntut untuk segera memproklamasikan kemerdekaan.
Soekarno : Tapi kita tidak boleh gegabah, Bung. Kita butuh waktu untuk mempersiapkan semuanya dengan matang agar tidak terjadi sesuatu yang tidak diinginkan.
Mr. Soebardjo : Saya setuju. Menurut saya, yang terpenting sekarang adalah menghadapi Sekutu yang hendak berniat kembali berkuasa di negeri ini. Selain itu, masalah kemerdekaan
sebaiknya dibicarakan lagi dalam sidang PPKI 18 Agustus mendatang.
Iwa Kusumasumantri : Lalu bagaimana dengan pendapat golongan muda ? Apa kita abaikan saja ?
Djojo Pranoto : Ya, lagipula mereka masih muda, pemikiran mereka terlalu pendek. Kita harus melihat ke depan, mempersiapkannya dengan matang. Kalau tidak bagaimana nanti jika semuanya berantakan?
Iwa Kusumasumantri : Baiklah , Bung. Berarti kita semua sudah sepakat.
Setelah selesai berunding, para golongan tua segera menemui para anggota golongan muda yang menunggu di luar ruangan.
Moh. Hatta : Setelah kami berunding tadi, kami memutuskan untuk tidak tergesa-gesa mengenai hal proklamasi kemerdekaan. Hal ini masih akan dibicarakan lagi dalam sidang PPKI.

SCENE II : Peristiwa Rengasdengklok
BABAK 2 : Penculikkan Soekarno dan Moh. Hatta oleh para pemuda.
Dengan berat hati mendengar keputusan tersebut, para pemuda pun meninggalkan kediaman Soekarno. Tetapi mereka tidak putus asa. Mereka pun menyusun strategi bagaimana membujuk Soekarno dan Moh. Hatta untuk memproklamasikan kemerdekaan sesegera mungkin. Akhirnya mereka memutuskan untuk mengasingkan kedua tokoh itu ke Rengasdengklok agar terhindar dari desakan pemuda dan pengaruh Jepang di Jakarta.
Tanggal 16 Agustus 1945 Pukul 04.00 WIB, kediaman Soekarno
Chairul Shaleh : Assalamualaikum ..
Moh. Hatta : Waalaikumsalam. Ada apa Saudara datang sepagi ini ?
Darwis : Kami bermaksud membawa Anda dan Soekarno untuk ikut kami menuju tempat pengasingan.
Soekarno : Tempat pengasingan ? Apa yang Saudara maksudkan ?
Chairul Shaleh : Ya, kami akan membawa kalian untuk diasingkan agar terhindar dari ancaman bentrok antara rakyat dan Jepang.
Moh. Hatta : Baiklah, kami akan ikut.
Darwis : Sebaiknya Ibu Fatmawati dan anak Anda turut serta, Bung. Untuk menjamin keselamatan mereka.
Soekarno : Baiklah, saya akan mengajak mereka.
Hilangnya Soekarno dan Moh. Hatta secara misterius pagi itu,menimbulkan kepanikan di kalangan para pemimpin di Jakarta. Peristiwa ini baru diketahui oleh Mr. Ahmad Soebardjo pukul 08.00 pagi.
Mr. Soebardjo : Apakah Saudara tahu keberadaan Soekarno dan Bung Hatta ?
Wikana : Maaf, saya tidak tahu, Bung.
Mr. Soebardjo : Katakanlah kepadaku dimana mereka sekarang, dan aku akan menjamin keselamatan mereka ketika kembali ke Jakarta, dan aku akan menjamin kemerdekaan untuk kalian esok harinya.
Sudiro : Akankah Anda bersumpah untuk itu ?
Mr. Soebardjo : Kau bisa percaya padaku, Nak
Wikana : Baiklah, kami akan menunjukkan tempatnya, di Rengasdengklok.
Mr. Soebardjo : (memanggil salah seorang pemuda) Hei, Nak ! Tolong antarkan kami ke Rengasdengklok.
Yusuf Kunto : Maaf, saya, Pak ? Baik, kalau begitu naiklah (Mr. Soebardjo naik ke mobil beserta Wikana dan Sudiro kemudian berangkat menuju Rengasdengklok)


BABAK 3 : Perundingan dengan Soekarno di Rengasdengklok
Soekarno : Nah , jelaskan sekarang mengapa Saudara sekalian membawa kami kesini.
Chairul Shaleh : Maafkan kelancangan kami, Bung . Ini demi keselamatan Anda.
Darwis : Kami ingin membicarakan masalah proklamasi kembali.
Moh. Hatta : Bukankah tempo hari sudah kami katakan kepada kalian, masalah kemerdekaan masih akan dibicarakan dalam sidang PPKI ?
Chairul Shaleh : Memang benar adanya. Tetapi kami semua berpendapat, Mengapa menunggu untuk di merdekakan oleh Jepang ? Mengapa menunggu hasil sidang PPKI, kalau kita bisa bergerak dengan kekuatan sendiri ? PPKI itu bentukan Jepang, Bung. Kami ingin memproklamasikan kemerdekaan tanpa campur tangan dari Jepang.
Soekarno : Pendapat itu benar. Namun, kita masih terlalu dini untuk memproklamasikan kemerdekaan. Selain itu kita belum siap dan masih membutuhkan bantuan dari Jepang untuk merdeka.
Darwis : Bagaimana bila perkataan Jepang tentang kemerdekaan bangsa kita hanya janji manis belaka ? Apa yang akan Anda lakukan ?
Sukarni : Apakah akan selamanya menunggu janji itu, Bung ? Kita harus memproklamasikan kemerdekaan sekarang juga, demi rakyat yang sudah bertahun-tahun terbelenggu oleh penjajahan di Tanah Air mereka sendiri ! Mereka berhak bebas, dan sekaranglah saatnya !
Syodanco Singgih : Tenang Saudara sekalian. Mari bicarakan semuanya dengan kepala dingin, tidak perlu ada ketegangan , ok ?
(Syodanco Singgih membawa Soekarno dan Moh. Hatta menjauh dari perdebatan itu, kemudian mereka berunding)
Syodanco Singgih : Saya mengerti perhitungan Anda berdua mengenai masalah proklamasi ini, kita memang belum mempertimbangkan semuanya dengan matang. Tapi saya percaya kita dapat bangkit dan memanfaatkan situasi ini. Kesempatan tidak akan datang dua kali, Bung . Apa yang mereka katakan benar adanya dan saya mendukung mereka.
Moh. Hatta : Tetapi, apakah kita bisa?Akankah ini semua mungkin dilakukan ?
Syodanco Singgih : Tentu mungkin, Bung . Asal kita berusaha tentu akan kita temukan jalan keluarnya. Lagipula, para pemuda di Jakarta sedang menyusun strategi pertahanan untuk mencegah serangan dari Jepang ataupun sekutu yang tidak menerima proklamasi bangsa kita.
Soekarno : Baiklah, saya setuju. Kita akan memproklamasikan kemerdekaan tanpa ada campur tangan Jepang.
Pada pukul 17.30 WIB , rombongan dari Jakarta tiba di Rengasdengklok untuk menjemput Soekarno dan Moh. Hatta.
Mr. Soebardjo : Syukurlah kalian semua baik-baik saja. Jadi bagaimana keputusannya ?
Moh. Hatta : Kami setuju kemerdekaan akan dilaksanakan tanpa campur tangan Jepang.
Mr. Soebardjo : Lalu, Kapan kita akan melaksanakannya? Menurut saya, bagaimana jika besok ? Pasukan pemuda di Jakarta sudah bersiap.
Soekarno : Jika mungkin, ya kita akan melaksanakannya esok pagi.
Selesailah perundingan di Rengasdengklok. Semua anggota golongan tua maupun muda kembali ke Jakarta untuk membahas lanjut rencana proklamasi kemerdekaan tanggal 17 Agustus 1945.
SCENE III : Rumah Laksamana Maeda (Perumusan Teks Proklamasi)
Tanggal 16 Agustus 1945 pukul 23.00 WIB, rombongan tiba di Jakarta.
Mr. Soebardjo : Bagaimana kita membicarakan naskah proklamasi untuk mendeklarasikan kemerdekaan kita ?
Chairul Shaleh : Kita butuh tempat untuk membahasnya, Bung. Tapi hari sudah malam dan pihak Jepang tak mungkin mengizinkan kita melakukan kegiatan sekarang, apalagi jika mereka tahu bahwa kita hendak membicarakan rencana proklamasi.
Mr. Soebardjo : Saya punya ide. Kita akan meminjam rumah perwira Jepang, Laksamana Maeda.
(Rombongan kemudian berangkat ke rumah Laksamana Maeda di Jl. Imam Bonjol No.1)
Mr. Soebardjo: (mengetuk pintu)
Laksamana Maeda : Selamat malam, Ada apa, Bung ?
Mr. Soebardjo : Maaf kami mengganggu Anda malam-malam begini. Kami perlu tempat untuk membicarakan rencana kemerdekaan yang akan dilangsungkan esok hari.
Laksamana Maeda : Benarkah itu ? Kalau begitu,masuklah. Saya turut gembira mendengar kabar ini . Silakan gunakan ruangan yang kalian butuhkan. Saya akan pergi istirahat dulu.
Chairul Shaleh : Terimakasih, Pak Perwira.
Perumusan Teks Proklamasi dilakukan di rumah makan Maeda. Tiga eksponen pemuda yaitu Sukarni, Sudiro, dan B.M Diah menyaksikan Soekarno, Moh Hatta, dan Mr. Ahmad Soebardjo membahas perumusan naskah proklamasi.
Acara Perumusan naskah proklamasi berjalan lancar.Tidak ditemukan kesulitan untuk menemukan rumusan yang tepat. Sebagai hasil pembicaraan mereka bertiga, di perolehlah rumusan yang di tulis tangan oleh Soekarno.
Pada tanggal 17 Agustus 1945 pukul 04.00 WIB, dibacakanlah rumusan naskah proklamasi untuk yang pertama kalinya di depan para hadirin yang berada di rumah Maeda yang langsung disetujui. Namun kemudian timbullah persoalan tentang siapa saja yang akan menandatangani naskah proklamasi.
Chairul Shaleh : Menurut saya, sebaiknya naskah ini jangan ditandatangani oleh anggota PPKI.
B.M Diah : Memang kenapa ? Lantas siapa yang akan menandatanganinya?
Chairul Shaleh : PPKI kan lembaga bentukkan Jepang . Kita sudah sepakat tadi untuk melaksanakan proklamasi tanpa campur tangan Jepang.
Mr. Soebardjo : Kau benar, Nak. Bagaimana ini , Bung ?
Soekarno : Adakah dari kalian yang punya pendapat untuk menyelesaikan masalah ini?
Sukarni : Bagaimana jika naskah ini ditandatangani oleh hadirin yang datang saat ini? Seperti Amerika ketika menandatangani teks deklarasinya.
Moh.Hatta : Jangan, kita tidak boleh meniru. Kita harus berbeda dari bangsa lain.
Wikana : Lalu bagaimana, Bung Karno ?
Soekarno : Karena ini semua berkat jasa-jasa Indonesia berarti "Atas nama bangsa Indonesia"
Sukarni : Saya setuju, dan saya punya usul. Yang menandatangani teks cukup dua orang saja yaitu Anda dan Bung Hatta sebagai wakil dari bangsa Indonesia. Bagaimana ?
Soekarno : Usul yang bagus . Bagaimana hadirin ?
Hadirin (semua) : Kami setuju !!!
Setelah semuanya setuju, Soekarno memerintahkan Sayuti Melik untuk mengetik teks proklamasi
Soekarno : Tolong kau ketik teks proklamasi ini. Jagalah teks ini baik-baik.
Sayuti Melik : Baik, Bung . (dengan segera mengetik teks tersebut)
Sayuti Melik pun mengetik teks tersebut. Semua persiapan proklamasi rampung pada pukul 04.30 WIB. Lalu, semua hadirin pulang ke rumah masing-masing dengan perasaan gembira. Kemudian para pemuda mengirimkan kurir-kurir untuk menyampaikan bahwa saat proklamasi telah tiba. Mereka juga mengatur pelaksanaan penyiaran berita proklamasi kemerdekaan. Menyebarkan beberapa pamfleet ke penjuru Jakarta dan sekitarnya. Pengeras suara diusahakan adanya. Semua dilakukan agar rakyat dapat turut menyaksikan momen paling berharga untuk bangsa Indonesia
Pada saat yang sama, Soekarno dan Ibu Fatmawati sampai di kediaman mereka dan berbincang sejenak.
Soekarno : Alhamdulillah akhirnya semua berjalan dengan lancar. Terimakasih ibu telah menemani saya di saat-saat yang cukup menguras pikiran ini.
Ibu Fatmawati : Iya, terimakasih Gusti Allah yang telah memberikan jalan pada bangsa kita untuk memproklamasikan kemerdekaan. Oh iya pak, apakah kalian sudah merencanakan bagaimana proklamasi besok akan berlangsung ?
Soekarno : Sudah, kita akan melaksanakan upacara bendera, yang nanti akan di iringi lagu Indonesia Raya karya Bung Supratman.
Ibu Fatmawati : Bukankah kita belum punya bendera ? lantas bagaimana ?
Soekarno : Ya ampun , Bapak sampai lupa, Bu. Kalau begitu bagaimana jika Ibu saja yang menjahitkan bendera ?
Ibu Fatmawati : Tapi Ibu tidak punya kain, Pak. Kain yang ada hanya kain merah dan putih. Apa tidak apa-apa?
Soekarno: Tentu saja. Buatlah bendera yang sederhana. Yang penting kita sudah berusaha untuk menyediakannya.
Ibu Fatmawati : Baiklah, Pak. Dan, Ibu punya ide. Kita namakan saja bendera nya "Sang Saka Merah Putih". Bagaimana ?
Soekarno : Ide yang bagus. Ya, bendera pusaka "Sang Saka" dan warna nya merah putih , menjadi "Sang Saka Merah Putih" , Brilian !
Ibu Fatmawati : Ya sudah, sebaiknya Bapak bersiap sana. Menyusun pidato yang nanti akan bapak bacakan.


SCENE IV : Proklamasi Kemerdekaan
Hari Jum'at pada tanggal 17 Agustus 1945 pukul 10.00 WIB di Jl. Pegangsaan Timur No.56 , dilangsungkan proklamasi kemerdekaan Indonesia.
Sesaat sebelum upacara dimulai…
Soekarno : Trimurti, tolong Anda kibarkan bendera Merah Putih ini sebagai tanda awal kejayaan bangsa ini. (sambil menyerahkan bendera)
Trimurti : Siap, Bung. Saya akan menyuruh anak didik saya untuk mengibarkannya. (memanggil Suhud dan Latief) Hei, kalian ! Jaga baik-baik bendera ini. Kalian mendapat kehormatan untuk mengibarkan bendera ini untuk pertama kalinya dalam sejarah Indonesia.
Latief dan Suhud : Siap, Komandan ! Kami tak akan mengecewakan Anda.
Tiba saatnya Upacara Proklamasi Kemerdekaan Indonesia…
Tokoh-tokoh pejuang Indonesia telah hadir di lokasi. Di antaranya yaitu Mr. AA. Maramis, HOS Cokroaminoto, Otto Iskandardinata, Ki Hajar Dewantara, M. Tabrani dll.
Suasana menjadi sangat hening. Soekarno dan Hatta dipersilahkan maju beberapa langkah dari tempatnya semula. Soekarno mendekati mikrofon. Dengan suaranya yang lantang dan mantap, Soekarno pun membacakan pidato pendahuluan sebelum beliau membacakan teks proklamasi.

Pidato Soekarno :
Saudara-saudara sekalian ! Saya telah minta Saudara hadir disini, untuk menyaksikan peristiwa maha penting dalam sejarah bangsa kita. Berpuluh-puluh tahun kita bangsa Indonesia telah berjuang umtuk merdeka. Bahkan telah beratus-ratus tahun lamanya, gelombang aksi kita tidak putus dalam berjuang untuk memerdekakan negeri ini. Kita jatuh bangun menyusun kekuatan untuk menggapai cita-cita Indonesia bebas dari penjajahan bangsa lain. Semalam, kami para pemuka-pemuka rakyat Indonesia dari berbagai penjuru bergabung untuk memusyawarahkan dan permusyawaratan itu seiya-sekata berkata : inilah saatnya bagi kita untuk mengobarkan api revolusi kemerdekaan Indonesia. Saudara sekalian ! Dengan ini kami menyatakan kebulatan tekad itu. Dengarkanlah proklamasi kami :
 PROKLAMASI

Kami bangsa Indonesia dengan ini menyatakan Kemerdekaan bangsa Indonesia. Hal-hal yang mengenai pemindahan kekuasaan dan lain-lain, diselenggarakan dengan cara saksama dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya

Jakarta, hari 17 bulan 8 tahun 45
"Atas nama bangsa Indonesia"
Soekarno-Hatta
Kemudian di kibarkanlah bendera Sang Saka Merah Putih diiringi lagu Indonesia Raya. Hadirin turut menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia tersebut.
Peristiwa Proklamasi ini memang hanya berlangsung sebentar. Namun. Peristiwa itu telah megubah segala sendi kehidupan bangsa Indonesia. Peristiwa Proklamasi Kemerdekaan telah menjadi momentum puncak perjuangan Bangsa Indonesia. Oleh karena itu, kita sebagai generasi penerus bangsa harus berprestasi dalam rangka mengisi kemerdekaan tersebut, bukan malah menodainya. Kita harus bisa membalas budi para pejuang Tanah Air jaman dahulu dengan cara mempertahankan kemerdekaan ini !
Itulah dialog terjadinya detik-detik proklamasi kemerdekaan RI pada tahun 1945. Sebagai warga negara Indonesia yang baik sudah seharusnya kita tumbuhkan rasa nasionalisnme pada diri kita, caranya dengan menjaga persatuan dan kesatuan NKRI, saling menghargai, menjaga kerukunan antar sesama dan saling membantu antar sesama WNI.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar