Drama Ir. Soekarno Dan Rengasdengklok
DRAMA SOEKARNO
Setelah belanda meninggalkan indonesia datanglah jepang
dengan kekuatannya untuk menjajah indonesia mengambil rempah-rempah, dan
mempekerjakan paksa pribumi indonesia dengan sangat sadisnya.
(jepang masuk dengan mendorong rakyat pribumi)
Jepang 1 : ayo cepat kerja… dasar kamu tidak berguna!!
Jepang 2 : kamu bisanya malasan saja( sambil mendorong
pribumi 2)
Pribumi 1(perempuan) : ampun tuan… ampun…
Pribumi 2(perempuan) : ampuni kami tuan, kami belum makan
selama 4 hari.
Pribumi 3(suami pribumi 1): dasar jepang sialan, akan ku
bunuh kau. ( sambil mengangkat pacul ke arah jepang ).
Jepang 2 😦 menahan dan membalas memukul kepala ke
pribumi 3 ). berani melawan kamu ya !
Pribumi 1 : ampun.. jangan sakiti suami saya! ( sambil
menangis dan membantu suaminya ). (EFEK: DARAH PALSU DI TARUH DI KENING)
“Jepang 3 Datang”
Jepang 3 : kita diperintahkan kembali ke negara jepang
karena negara kita diserang ! ( turun panggung dengan semua jepang ).
Pribumi 4 : ( berdiri dengan perasaan gembira ). Kita bebas
… kita bebas … merdeka … merdeka … (semua pribumi ikut senang dan berteriak).
SCENE I : Berita Kekalahan Jepang
Tanggal 14 Agustus 1945, Jepang menyerah kepada sekutu,
setelah sebelumnya kota Hiroshima dan Nagasaki jatuh, karena bom atom di
tembakan di kota itu, Pada masa itu, Indonesia ada dibawah kekuasaan Jepang.
Kekalahan Jepang menjadi kesempatan bagi Indonesia untuk lepas dari tangan
penjajah,
ini membuat golongan muda, seperti Sutan Sjahrir,
Sukarni,Chairul Saleh dan wikana, mendesak golongan tua, diantaranya Ir.
Sukarno dan Drs. Mohammad Hatta, untuk menggunakan kesempatan, untuk segera
memproklamirkan kemerdekaan.
(Sutan Syahrir masuk panggung sambil menempelkan radio ke
telinga)
Sutan Syahrir : Teman teman ada berita penting dari saluran
BBC, Jepang menyerah kepada sekutu!
Wikana : Benarkah?
Sutan Syahrir : Ya, sekutu telah menjatuhkan bom di kota
Hiroshima dan Nagasaki.
Chairul Shaleh : Inilah saat yang tepat untuk
memproklamirkan kemerdekaan kita!
SS dan Wikana : Setuju!
SCENE II
Tanggal 15 Agustus 1945, Di Jalan Pegangsaan Timur No.17,
Jakarta, Berkumpulah para pemuda, Dan juga beberapa golongan tua, Antara lain
Ir.Sukarno dan Drs. Moh Hatta, Untuk membicarakan proklamasi kemerdekaan
Indonesia.
Chairul Shaleh : Sekarang Bung, sekarang! Kita proklamirkan
kemerdekaan!
Sukarni : Kita harus segera merebut kekuasaan!
CS dan Sukarni : Kami sudah siap mempertaruhkan jiwa kami!
Soekarno : Mengapa sekarang? Kekuatan kita belum cukup untuk
melawan kekuatan Jepang!
Chairul Shaleh : Ini saat yang tepat, Bung. Jepang sudah
kalah oleh Sekutu dan tak ada kuasa lagi di negeri ini.
Sukarni : Benar Bung! Ini saat yang tepat!
Soekarno : Baiklah! Beri saya waktu untuk berunding dengan
yang lainnya.
Ir.Sukarno akhirnya, Dengan beberapa tokoh golongan tua
lainnya, Salah satunya drs. Mohammad Hatta, Dan juga Soebardja, Melakukan
perundingan, Untuk menghasilkan kesepakatan.
Tetapi, Hasil perundingan golongan tua, Membuat golongan
muda, Merasa kecewa, Dan melakukan rencana rahasia, Untuk mengasingkan Soekarno
dan Mohammad Hatta, Ke Rengasdengklok, kota kecil jauh dari jalan raya, Agar
mereka, Tidak terpengaruh oleh Jepang di Jakarta. Dengan tujuan, keduanya,
Membuat Indonesia cepat merdeka,
SCENE III
Tanggal 16 Agustus 1945 Di pagi pagi buta, Datanglah
beberapa pemuda, Ke rumah Ir.Soekarno dan mohammad Hatta, Untuk diam diam
membawa mereka, Ke Rengasdengklok seperti rencana semula.
Chairul Shaleh : Assalamualaikum ..
Moh. Hatta : Waalaikumsalam. Ada apa Saudara datang sepagi
ini ?
Darwis : Kami bermaksud membawa Anda dan Soekarno untuk ikut
kami menuju tempat pengasingan.
Soekarno : Tempat pengasingan ? Apa yang Saudara maksudkan ?
Chairul Shaleh : Ya, kami akan membawa kalian untuk
diasingkan agar terhindar dari ancaman bentrok antara rakyat dan Jepang.
Moh. Hatta : Baiklah, kami akan ikut.
Darwis : Sebaiknya Ibu Fatmawati dan anak Anda turut serta,
Bung. Untuk menjamin keselamatan mereka.
Soekarno : Baiklah.
Fatmawati : ada apa ini pak ramai sekali !, kasihan guntur
baru saja tidur sudah ada keributan ! (sambil menimang anak)
Soekarno : Aku juga tidak tau buk.
SCENE IV
Hilangnya Soekarno dan Moh. Hatta, secara misterius di pagi
buta, menimbulkan kepanikan di kalangan para pemimpin di Jakarta, Suatu
peristiwa, Yang baru diketahui oleh Mr. Ahmad Soebardjo pukul 08.00 paginya.
Mr. Soebardjo : Apakah Saudara tahu keberadaan Soekarno dan
Bung Hatta ?
Wikana : Maaf, saya tidak tahu, Bung.
Mr. Soebardj : Katakanlah kepadaku dimana mereka sekarang,
dan aku akan menjamin keselamatan mereka ketika kembali ke Jakarta, dan aku
akan menjamin kemerdekaan untuk kalian esok harinya.
Sudiro : Akankah Anda bersumpah untuk itu ?
Mr. Soebardjo : Kau bisa percaya padaku, Nak
Wikana : Baiklah, mereka ada di Rengasdengklok.
Akhirnya, Salah satu pemuda bernama Yusuf Kunto,
Mengantarkan Mr. Ahmad Subardjo, Beserta sekertaris pribadinya, Sudiro,
Menjemput Bung Hatta dan Bung Karno, Di kota Rengasdengklok. Sementara itu,
Perdebatan berlangsung seru, Rengasdengklok menjadi saksi bisu, Perundingan
antara pemuda, Dan golongan tua, Untuk memproklamirkan segera, Kemerdekaan
Negara tercinta.
SCENE V Perundingan dengan Soekarno di Rengasdengklok
Soekarno : Nah , jelaskan sekarang mengapa kalian membawa
kami kesini.
Chairul Shaleh : Maafkan kelancangan kami, Bung . Ini demi
keselamatan Anda.
Darwis : Kami ingin membicarakan masalah proklamasi kembali.
Moh. Hatta : kami sudah katakan kepada kalian, masalah
kemerdekaan akan dibicarakan dalam sidang PPKI
Darwis : Mengapa menunggu hasil sidang PPKI, kalau kita bisa
bergerak dengan kekuatan sendiri ?
Sukarni :PPKI itu bentukan Jepang, Bung. Kami ingin
memproklamasikan kemerdekaan tanpa campur tangan dari Jepang.
Darwis : Kita pasti bisa, Bung!
Di Rengasdengklok selesailah perundingan, Akan kembali ke
Jakarta semua golongan, Dengan satu kesepakatan, Tanggal 17 Agustus akan
diproklamirkan kemerdekaan, Di bulan suci,bulan ramadhan.
Di rumah Laksamana Tadashi Maeda seorang perwira tinggi,
Dirumuskan teks proklamasi, Disaksikan tiga pemuda Sudiro, BM Diah dan Sukarni,
Sukarno, Moh.Hatta dan Ahmad Subardjo merumuskan dengan sepenuh hati, Naskah
diketik, Oleh Sayuti Melik, Dan bendera merah putih, Di jahit oleh ibu
Fatmawati, Saatnya nanti, Setelah pembacaan teks proklamasi, Diambil oleh Suhud
dari baki, Dikibarkan oleh Latief, seorang prajurit laki laki, Dan lagu
Indonesia raya mengiringi.
Jumat, Di bulan ramadhan penuh hikmat, Jam 10 pagi 17
Agustus 1945, Di jalan pegangsaan timur no. 56 Jakarta Upacara berlangsung
sederhana, Semua pemuda, Berdiri dengan gagah, Siap mendengarkan Sukarno
berbicara, Di damping oleh Moh. Hatta.
(Sukarno maju mendekati mikrofon)
Saudara-saudara sekalian ! Saya telah minta Saudara hadir
disini, untuk menyaksikan peristiwa maha penting dalam sejarah bangsa kita.
Berpuluh-puluh tahun kita bangsa Indonesia telah berjuang umtuk merdeka. Bahkan
telah beratus-ratus tahun lamanya, gelombang aksi kita tidak putus dalam
berjuang untuk memerdekakan negeri ini. Kita jatuh bangun menyusun kekuatan
untuk menggapai cita-cita Indonesia bebas dari penjajahan bangsa lain. Semalam,
kami para pemuka-pemuka rakyat Indonesia dari berbagai penjuru bergabung untuk
memusyawarahkan dan permusyawaratan itu seiya-sekata berkata : inilah saatnya
bagi kita untuk mengobarkan api revolusi kemerdekaan Indonesia. Saudara
sekalian ! Dengan ini kami menyatakan kebulatan tekad itu. Dengarkanlah
proklamasi kami :
PROKLAMASI
Kami bangsa Indonesia dengan ini menyatakan Kemerdekaan
bangsa Indonesia. Hal-hal yang mengenai pemindahan kekuasaan dan lain-lain,
diselenggarakan dengan cara saksama dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya
Jakarta, hari 17 bulan 8 tahun 45
“Atas nama bangsa Indonesia”
Soekarno-Hatta
Demikianlah saudara-saudara! Kita sekarang telah merdeka.
Tidak ada satu ikatan lagi yang mengikat tanah air kita dan bangsa kita! Mulai
saat ini kita menyusun Negara kita! Negara Merdeka. Negara Republik Indonesia
merdeka, kekal, dan abadi. Insya Allah, Tuhan memberkati kemerdekaan kita itu“.
Para pemuda : Merdeka! Merdeka!Merdeka!
(semua maju dan menyanyikan lagu “syukur”)
PEMERAN :
Penjajah 1 – Priyanto Pribumi 1 –
Anti
Penjajah 2 – Prisma Pribumi 2 – Septi
Penjajah 3 – Bidin Pribumi 3 – Diky
Pribumi 4 – Bagio
Pribumi lain –
Ir. Soekarno – Arya Moh. Hatta – Danu
Sutan Sjahrir – Andik Darwis – Zaky
Sukarni – Adhim Ahmad Soebarjo – Ilham
Chairul Saleh – Erik Wikana – Arie
Fatmawati – Tina Narator – Devi
PERLENGKAPAN :
Bendera
besar : 3
Tongkat :
3
Bendera
Kecil : seadanya
Saus
Merah encer di dalam plastik kecil : 1
Pacul
buatan dari kerdus : 3
Senjata “ “ “ “ “
: 2
KOSTUM UNTUK PENTAS SENI (DICARI SENDIRI DAN BOLEH MEMBANTU)
Penjajah 1,2,3 : PNS
dan fantofel
Sukarni :PNS dan
fantofel dan berkopya
Chairul Saleh :Jas hitam, hem putih, celana kain, sepatu
fantofel,
Fatmawati :Kebaya dan kain sewek bagus
Pribumi laki-laki:Kaos Putih Polos, Celana guru
Moh. Hatta :Jas
hitam, hem putih, celana kain, sepatu fantofel, kacamata bulat
Pribumi Perempuan:Kebaya dan kain sewek biasa
Darwis :Hem polos celana kain, sepatu fantofel
Ir. Soekarno :Jas putih,Hem putih, dasi, dan Jelana Putih
sepatu fantofel, kopya polos
Ahmad Soebarjo :Jas hitam, hem putih, berdasi, dan fantofel
Sutan Sjahrir :Jas hitam, hem putih, berdasi, dan fantofel
Wikana :Hem polos celana kain, sepatu fantofel
Teks lain
omfizi
HOME
Dialog Makrifat Fatmawati dengan Soekarno sebagai Ide
Gagasan Kelahiran Merah Putih
03:26
Fatmawati Sedang Menjahit Bendera Pusaka Indonesia "Merah Putih" semasa hidupnya
Pernikahan Fatmawati dengan Bung Karno sudah janji lauhul
mahfudz dan skenario Allah. Bung Karno menorehkan sejarah panjang dalam upaya
memerdekakan Indonesia, dari pembuangan hingga kudeta perang oleh agresi para
penjajah. Pada tahun 1944, setahun sebelum Proklamasi Kemerdekaan dikumandangkan
Soekarno-Hatta, Jepang telah menjanjikan kemerdekaan Indonesia.
Tahun 1944 musim semi, dalam keheningan malam, Bung Karno
bangun dari lelap tidur istirahatnya, lalu mencicipi makanan diatas meja makan,
dan menarik sebatang rokok cerutunya. Tiba-tiba Fatmawati muncul dari belakang
dan keluar dari kamar menghampir sang suami. Fatmawati memulai pembicaraan
“ayah... apa jang dirisaukan?’. Tanya Fatmawati sambil memeluk Bung Karno dari
samping tempat duduknya.
Kemudian Bung Karno berkata “setelah akoe istirahat sejak
poekoel 10.00 hingga bangoen dari lelapkoe poekoel 11.20 tadi, akoe melihat
cahaya dalam mimpikoe dan gemoelai rakyat berbondong-bondong, membawa sepoecoek
pesan soerat kepadakoe, laloe mereka berkata “Dokoeritsoe shimashita /
merdeka”. Cerita Bung Karno kepada Fatimah.
Fatimah tidak mau panjang lebar menanyakan perihal tafsir
mimpinya itu, dengan mengajak Bung Karno dan memberi semangat “ayah... besok
pagi tahrim, ayah.. bertemoe banyak tamoe. Oentoek mengerti isi mimpi, kita
haroes sholat istikharoh bersama, goesti Allah pasti memberi jawaban’. Usul
Fatmawati kepada Bung Karno. Tak lama kemudian beranjak dari tempat duduk. Bung
Karno dan Fatimah bersegera diri mengambil air wudhu. Mereka berdua
melaksanakan sholat Istikharoh.
Menurut penuturan Fatmawati, saat itu Bung Karno mengadahkan
tangganya ke atas langit dan berdoa seperti ini;
“Ya Allah, Toehan maha kasih, Engkaoe akan merahmati bangsa
ini, bangsa yang akan berdiri diatas riboean sajak rakyat dan joetaan boedaya
bernaoeng dibawahnya. Ya Allah,,,, restoeilah bangsa ini oentoek merdeka.
Berilah kekoeatan padakoe, keluargakoe dan persatoekanlah rakjat dalam
mengobarkan oesiran-oesiran pendjadjah”. Begitu doa Bung Karno yang diaminkan
oleh Fatmawati.
Selesai berdoa, Bung Karno dan Fatmawati beranjak untuk
istirahat. Sebelum mereka lelap, sempat pula terjadi dialog yang sangat
romantis namun penuh harapan akan nasionalisme dan kemerdekaan. Mungkin dialog
itu sebuah makrifat malam yang lahir dari gagasan ranjang dan warna kesukaan.
Betapa tidak, dialog makrifat malam itu mencerminkan bahwa
Indonesia itu sebagai jawaban Allah atas istikharoh berjamaah Bung Karno
bersama Fatmawati. Tentu membuat dunia semakin tau bahwa Indonesia lahir dari
rahim Fatmawati. Dengan nada romantis, Bung Karno berkata “Fat sadjang, warna
kesoekaan moe apa?”. Tanya Bung Karno sambil menatap mata Fatmawati yang sedang
membaringkan kepalanya ke bantal tidur.
Lalu Fatmawati menjawab “akoe soeka warna merah, tetapi
ayahkoe (Hasan Din) seorang Moehammadijah, sering bercerita kalaoe kesoekaanja
doea warna hijaoe-merah”. Jawab Fatmawati. Kemudian, Bung Karno bertanya “apa
arti djang dikandoeng dari warna kamoe soekai sadjang?”.
Fatmawati menjawab “warna merah miliki doeble arti, kesatoe;
memboeat wanita cantik dan keindahan terpancar, kedoea; kecerdikan, berani, dan
semangat. Kalaoe saja warna djang koe pakai hijaoe, maka miliki satoe arti
kesedjoekan. Warna hidjaoe kata ajahkoe (Hasan Din) disoekai nabi”.
Lalu Fatmawati bertanya kembali kepada Bung karno “ayah
soeka warna apa ?” Bung Karno menjawab singkat “warna poetih sajang?” jawabnya.
Fatmawati bertanya lagi “apa arti dari warna djang ajah soekai itoe?”. Tak lama
kemudian Bung Karno menjawab “warna poetih ciri-ciri bersih, soeci dan bekerja
oentoek rakjat”. Jawab Bung Karno.
Tetapi tak kalah juga untuk menyingkap misteri warna yang
disukai Bung karno itu. Lalu bertanya “apa rahasia, kenapa ajah semoea badjunja
warna poetih, satoe hitam jas berkelblits, celana poetih?”. Tanya Fatmawati.
Kemudian Bung Karno memberi jawaban yang sangat mesra dan penuh janji batin
akan kemerdekaan Indonesia, bahwa Bung Karno yakin kalau Indonesia akan lahir
dari seorang rahim ibu pertiwi yang ada di sampingku saat ini.
Bung Karno menjawab pertanyaan Fatmawati “sajang, akoe telah
berjanji padamoe melaloei loekisan djang koe boeat sendiri, beraroma wangi
haroem toedoeng merah berbaloet garis poetih, saat akoe jatoeh cinta padamoe
sajang, aku katakan saat itu kepada moe, “wahai dikaoe Fat (Fatimah), engkaoe
akan bersamakoe nanti dan mendatang, parasmoe memancarkan cahaya merdeka,
menoentoen dirikoe bangkit gelora. Fat, akoe boeatkan loekisan ini oentoek moe,
koe loekiskan parasmoe yang bercahaya kemilaoe itoe, akoe pasang toedoeng merah
berbaloet garis poetih dalamnya, ini pertanda cintakoe putih bersih, vivere
colomente”. Kata Bung Karno penuh mesra kepada Fatmawati.
Kemudian, Bung Karno mulai masuk diskusi pada bendera dan
nama Indonesia. Namun, Fatmawati sudah tak kuat untuk melanjutkan diskusi.
Akhirnya Bung karno memutuskan diskusi itu esok malamnya. Mereka berdua
menikmati istirahat malam. Hingga pagi sekitar jam 10.30 Syahrir dan Moh. Hatta
datang ke kediaman Bung Karno untuk melakukan perbincangan terkait situasi dan
kondisi rakyat Indonesia saat itu, dimana di wilayah timur Indonesia bagian pulau
Sumbawa dan Makassar terjadi perampokan rempah-rempah dan hasil panen para
petani yang kemudian diangkut oleh Jepang dengan kapal menuju bagian Barat
Indonesia.
Sehari bersama Sutan Syahrir dan Moh. Hatta melakukan
pertemuan disemua tempat yang mereka rencanakan. Mengulik sejarah dalam bejana
penjajah. Syahrir mendesak pemuda segera revolusi dan lakukan perlawanan.
Kemudian, diwaktu malam tiba, Bung Karno kembali kerumahnya. Menjelang pukul
09.00 malam, Bung Karno segera beranjak untuk istirahat bersama Fatmawati.
Bung Karno kembali memulai cerita kepada Fatmawati tentang
perkembangan situasi dan kondisi. Bung Karno berkata “Fat sajang,..... Jepang
soedah bolehkan rakjat pakai simbol-simbol kemerdekaan, Fat.... sepertinja kita
haroes boeat bendera dan ciptakan lagoe kebangsaan, soepaja kita poenya cirihas
merdeka”. Cerita Bung Karno pada Fatmawati.
Lalu Fatmawati mencoba berdiskusi dengan Bung Karno, ia
berkata “ayah,,,, warna apa jang akan mendjadi bendera kemerdekaan, soepaja
akoe mendjahitnja lebih cepat”. Tanya fatmawati.
Kemudian, Bung Karno meyakinkan Fatmawati dengan berkata
“Fat... sajang... boekankah kita berdoea soedah bercerita soal warna dan
kemesraan maupun kesukaan, akoe oesoel agar warna bendera engkaoe jang
pikirkan”. Usul Bung Karno membuat Fatmawati segera memutar otak untuk memberi
jawaban kepada Bung Karno.
Dengan tegas dan tangkas, usul Fatmawati segera di diajukan
ke Bung Karno “ayah....... bendera kemerdekaan sangat bagoes sekali kalaoe
merah poetih”. Demikian jawaban Fatmawati. Sementara Bung Karno sendiri
pertimbangkan usulan Fatmawati. Lalu, Bung Karno berkata “Fat... sajang....
akoe melihat moe soenggoeh dalam maknanja, batinkoe berkata kaoe mampoe
memboeat koe terpana, soenggoeh racikan warna djang kaoe oesoelkan terkandoeng
dalam badan seloeroeh djagat raja priboemi.. kamoe hebat sajang”. Begitu
tanggapan Bung Karno terhadap jawaban Fatmawati.
Tanpa harus menunggu perintah Bung Karno, seorang Fatmawati
langsung saja berfikir, pertimbangkan dan berbicara dalam batinnya. Warna merah
harus diatas, warna putih dibawah. Jadi kalau disebut merah putih. tetapi, bagi
Fatmawati tak mudah mendapatkan kain untuk bendera.
Malam itu juga, Fatmawati membuka lemari pakaiannya. Ia
menemukan selembar kain merah yang merupakan tudung kesukaannya. Sementara kain
warna putih diambil didalam lemarinya. Lalu malam itu juga di jahid apa adanya,
bendera itu hanya sekitar 50 centimeter. Kemudian keesokan harinya
diperlihatkan kepada Bung Karno, ia katakan “ayah.... ini hasil jahitan djang
koe boeat, begini akoe menyoesoennja warna merah diatas dan warna poetih
dibawah, jadi bendera merah poetih”.
Begitu bendera diperlihatkan. Lalu Bung Karno langsung
komentar; “soenggoeh loear biasa engkaoe wahai istrikoe, bahwa engkaoelah jang
menyoesoen dan melahirkan bangsa ini, dimana simbol bendera berasal dari rahim
iboe pertiwi djang gagah berani dan oelet. Iboe pertiwi dikandoeng badan, itu
kobaran semangat koe”.
Dari Rahim Fatimah, Indonesia Lahir Merdeka
Fatmawati tercatat dalam sejarah sebagai wanita penjahit
bendera pusaka. Ia merupakan perempuan penting dalam sejarah kemerdekaan
Indonesia. Fatmawati tidak membuat bendera merah putih sekali jadi. Sebelum 16
Agustus 1945, ia sudah menyelesaikan sebuah bendera merah putih.
Namun ketika diperlihatkan ke beberapa orang, bendera
tersebut dinilai terlalu kecil.
Untuk persiapan kemerdekaan tahun 1945 sekitar bulan januari
– februari, Fatmawati sudah mulai menjahit bendera merah putih yang baru dan
lebih besar. Fatmawati memanggil seorang pemuda, Chaerul Basri, untuk menemui
Shimizu, seorang pembesar Jepang. Shimizu adalah pimpinan barisan Propaganda
Jepang, yaitu Gerakan 3A. Dia juga ditunjuk sebagai perantara dalam perundingan
Indonesia-Jepang pada tahun 1943.
Karena Shimizu rajin mendengarkan uneg-uneg, pikiran, dan
pendirian orang Indonesia saat itu, lebih bisa diterima bahkan dianggap
‘teman’. Apalagi, dia juga mampu berbahasa Indonesia, meski terpatah-patah.
Shimizu lantas menghubungi seorang pembesar Jepang lainnya yang mengepalai
gudang di bilangan Pintu Air, di depan eks Bioskop Capitol. Kain itu oleh
Fatmawati dijahit menjadi sebuah bendera berukuran 2x3 meter.
Pada 1977, Shimizu ke Indonesia. Dia bertemu Presiden
Soeharto dan sejumlah tokoh yang pernah dikenalnya. Dalam sebuah pertemuan,
Fatmawati kemudian menceritakan kain bendera pusaka dari Shimizu. Pada
1946-1968, bendera tersebut hanya dikibarkan setiap hari ulang tahun kemer
dekaan. Sejak 1969, bendera itu tak dikibarkan lagi dan disimpan di Istana
Merdeka. Bendera itu sempat sobek pada kedua ujungnya. Ujung berwarna putih
sobek 12X42 cm, sedangkan ujung berwarna merah sobek 15x47 cm. Ada pula
bolong-bolong.
Tahun 1945 Perang Dunia sudah hampir mencapai akhirnya,
kekalahan Jepang di berbagai medan pertempuran semakin mengobarkan semangat
Indonesia untuk mencapai kemerdekaannya. Pada tanggal 16 Agustus 1945 kegaduhan
terjadi diluar rumah Bung Karno, para pemuda yang sudah “membawa” Moh. Hatta
dan Soetan Sjahrir berteriak-teriak memanggil nama Bung Karno. Peristiwa ini
dikemudian hari kita kenal dengan nama peristiwa Rengasdengklok. Peristiwa ini
adalah salah satu momentum kemerdekaan Indonesia.
Bendera yang sudah dijahit tangan oleh Fatmawati diserahkan
untuk kemudian dikibarkan oleh para pemuda di Rengasdengklok sebagai persiapan
proklamasi kemerdekaan Indonesia keesokan harinya 17 agustus 1945.
Setelah kemerdekaan Indonesia, ternyata kehidupan Fatmawati
sebagai Ibu Negara masih jauh dari kata tenang. Agresi Militer Belanda datang
lagi, Fatmawati yang di Yogyakarta harus berpisah dengan Bung Karno yang
diasingkan di Pulau Bangka. Disaat itulah Fatmawati melahirkan putri
pertamanya, Megawati Sukarno Putri yang di kemudian hari akan kita kenal
sebagai Presiden Indonesia yang keempat. Setelah kelahiran Megawati, beliau
dikarunia berturut-turut dua putri lagi yaitu, Rachmawati dan Sukmawati. Baru
setelah itu pada tahun 1952, anak bungsu Sukarno dan Fatmawati lahir yang
diberi nama Guruh Sukarno Putra.
Penyelamatan Sang Saka merah Putih
Adalah tangan Fatmawati sendiri yang menjahit dua kain
menjadi dwiwarna: Merah Putih. Subuh tanggal 17 Agustus 1945, dalam keletihan
yang teramat sangat, Bung Karno pulang dalam keadaan menggigil. Malarianya
kumat. Terlebih dua hari dua malam ia tidak tidur. Hanya air soda dan air soda
yang diminum untuk menyegarkan mata. Fatmawati yang menyambutnya dengan cemas,
melihat betapa Bung Karno teramat pucat.
Tanpa banyak kata, Bung Karno bukannya merebahkan badan,
melainkan berjalan menuju meja tulis. Diambilnya kertas dan pena, lalu ia
menulis berlusin-lusin surat. Seperti dituturkan kepada Cindy Adams, Sukarno
mengisahkan bahwa Fatmawati cukup mengerti gejolak hati Sukarno, sehingga
membiarkannya tetap bekerja. Tubuhnya menggigil diserang malaria, tetapi
jiwanya jauh lebih bergejolak menyongsong Indonesia merdeka sebentar lagi.
(Ibid roso daras, 2016)
Fatmawati sendiri bukannya bugar. Ia mengikuti benar
hari-hari, jam-jam menjelang proklamasi. Dan itu sungguh melelahkan. Termasuk,
ia harus menyiapkan bendera merah putih untuk keperluan upacara kemerdekaan
Indonesia 17 Agustus 1945. Bendera jahitan tangan Fatmawati itu pulalah yang
dikibarkan pada momentum proklamasi. Bendera itu pula yang kemudian menjadi
pusaka negara: Sang Saka Merah Putih. Nilainya begitu sakral. Sejak dikibarkan
di Pegangsaan Timur 56, bendera itu pantang diturunkan. Pasukan Berani Mati
yang dibentuk sehari setelah proklamasi, berjaga 24 jam, siap menghadang
tentara Jepang jika mereka datang hendak menurunkannya. Tonggak kemerdekaan
sudah ditancapkan, sang merah putih sudah berkibar, nyawa-nyawa jiwa merdeka
siap menjaganya agar tetap berkibar dan terus di angkasa Indonesia. Satu hari,
dua hari, satu pekan, dua pekan… Sang Merah Putih tetap berkibar.
Sementara itu, pasukan Sekutu dikabarkan mulai mendarat di
sejumlah pantai dan kota-kota Indonesia. Detik-detik perang mempertahankan
kemerdekaan, sudah di depan mata. Sukarno sudah menghitung situasi itu.
Surat-surat yang ditulisnya di subuh 17 Agustus 1945, antara lain berisi
instruksi kepada para pemimpin pergerakan. (Ibid roso daras, 2016)
Kepada yang satu, diperintahkan untuk menghimpun kekuatan
untuk kepentingan pertahanan. Kepada yang lain, Sukarno memerintahkan agar
mengambil alih pemerintahan mulai dari tingkatan desa. Dan surat lain berbunyi,
“Besok Saudara akan mendengar melalui radio, bahwa kita sekarang telah menjadi
rakyat yang merdeka. Begitu Saudara mendengar berita itu, bentuklah segera
komite kemerdekaan daerah di setiap kota dalam daerah Saudara.” Waktu melintas
tahun, ketika Sekutu benar-benar mendarat dan menumpas Indonesia merdeka. Ia menangkap,
menahan, bahkan membunuh para pejuang kita. Sukarno dan keluarga yang tak lagi
aman di Jakarta, hijrah ke Yogyakarta. Dengan demikian pindah pula pemerintahan
pusat dari Jakarta ke Yogyakarta. Bagaimana nasib bendera pusaka yang
dikibarkan pada tanggal 17 Agustus 1945?. (Ibid roso daras, 2016)
Sejarah selalu mencatat peristiwa-peristiwa bersejarah. Sang
bendera pusaka, adalah sejarah yang mutlak harus dicatat. Dalam situasi negara
chaos, menghadapi pertempuran melawan Sekutu di satu sisi, serta menghadapi
perundingan di sisi yang lain, ternyata ada sekuel yang menarik tekait bendera
pusaka kita. Adalah intelijen Sekutu yang tercium tengah mengendus-endus
keberadaan bendera pusaka. Barangkali, upaya mereka menenggelamkan bahtera
Indonesia merdeka, tidak afdol kalau tidak bersamaan dengan penguburan sang
pataka.
Karenanya, pencarian bendera merah putih –untuk dimusnahkan–
berlangsung di antara peperangan dan perundingan. Sang dwi warna, rupanya sudah
diamankan oleh para pejuang kemerdekaan. Ia disimpan, disembunyikan, dilindungi
dengan nyawa. Tidak hanya itu, sistem penyimpanan pun dibuat mobile, bergerak
terus dari satu rumah ke rumah lain, dari satu tempat ke tempat lain.
“Pemunculan” sang merah putih berhasil direkam oleh Dr. Soeharto, dokter pribadi
Bung Karno pada April 1949. (Ibid roso daras, 2016)
Soeharto sendiri tidak tahu, di mana sang merah putih antara
kurun 1945 – April 1949. Yang jelas, malam itu, April 1949 ia kedatangan tami
misterius bernama Muthahar. Tokoh ini di kemudian hari sempat menjabat duta
besar Republik Indonesia serta pemimpin Kwartir Nasional Pramuka. Malam itu, ia
datang dengan menyelinap, takut tercium Nica. Di tangannya terpegang dua carik
kain, merah di kanan, putih di kiri. Itulah Sang Saka Merah Putih, yang untuk
tujuan pengamanan, telah dilepas jahitannya, dan diamankan sedemikian rupa
sebagai sebuah benda maha penting bagi tonggak berdirinya republik. Muthahar,
malam itu, menitipkan sang dwi warna kepada Dr. Soeharto. Mendapat amanat
penting, Dr. Soeharto menunaikannya dengan sangat hati-hati. Ia menyimpan
potongan kain merah di satu tempat, dan kain putih jauh di tempat lain.
Maksudnya, menjaga kemungkinan penggeledahan Nica. (Ibid roso daras, 2016)
Tercatat, tidak lama sang merah putih disimpan di rumah Dr.
Soeharto di Jl. Kramat 128, Jakarta Pusat. Beberapa malam berikutnya, Muthahar
kembali datang untuk mengambil dua potong kain pusaka tadi, dan memindahkannya
ke tempat berbeda. Entah berapa kali, puluh kali, ratus kali Muthahar
menyelinap, mengendap, memindahkan tempat persembunyian bendera proklamasi.
Satu tekad dikandung badan, benda pusaka itu tidak boleh jatuh ke tangan
Belanda, dan akan tetap menjadi pusaka kita selama-lamanya.
Tuhan Maha Besar. Sang merah putih, meski tak lagi semerah
darah dan seputih melati, tetapi dia tetap utuh hingga hari ini. Merahnya yang
memudar digerogoti waktu, tetap menyiratkan tekad berani semerah darah. Meski
putihnya menguning diretas waktu, tetapi putihnya tetap menyiratkan tekad suci
seputih melati. Dan dia, adalah perlambang Ibu Pertiwi, yang akan kita bela
sampai mati.
Penulis: Rusdianto Samawa
Teks lainya 3
Naskah Drama IPS
Minggu, 31 Mei 2015
Naskah Drama IPS
Tokoh:
Ir. Soekarno : Suwiryo
(Walikota Jakarta) :
Hatta : Ibu
Fatmawati :
Rakyat :
Sudiro (Pemimpin Barisan Pelopor) :
Dr. Muwardi : Wilopo :
Latief : Para Pemuda :
Suhud:
Narator:
Dr. Buntaran Marmoatmojo :
Arifin Abdurrahman: pasukan jepang:
Naskah Drama Proklamasi Kemerdekaan Indonesia
Narator: Pada tanggal 16 agustus 1945 para tokoh nasional
telah merencanakan susunan pembacaan teks proklamasi kemerdekaan Indonesia yang
dilaksanakan pada esok hari tepat jatuh pada tanggal 17 agustus 1945. Pada
siang hari saat di kediaman rumah Soekarno, Soekarno yang tengah sakit sedang
berbincang dengan istrinya Fatmawati di kamarnya…
Soekarno: “Alhamdulillah akhirnya semua berjalan dengan
lancar. Matur nuwun ibu telah menemani aku di saat-saat yang cukup menguras
pikiran ini.”
Fatmawati: *Sambil memberikan minuman kepada Soekarno* “Iya,
matur nuwunlah kepada Gusti Allah yang telah memberikan jalan pada bangsa kita
untuk memproklamasikan kemerdekaan. Oh iya pak, apakah kalian sudah
merencanakan bagaimana proklamasi besok akan berlangsung?”
Soekarno: “Sudah, kita akan melaksanakan upacara bendera,
yang nanti akan di iringi lagu Indonesia Raya karya Bung Supratman.”
Fatmawati: “Bukankah kita belum mempunyai bendera? Lantas
bagaimana?”
Soekarno: “Ya ampun, Bapak sampai lupa, Bu. Kalau begitu
bagaimana jika Ibu saja yang menjahitkan bendera?”
Fatmawati: “Tapi yang kain ibu punya hanya kain merah dan
putih. Apa tidak apa-apa?”
Soekarno: “Tentu saja. Buatlah bendera yang sederhana, yang
penting kita sudah berusaha untuk menyediakannya.”
Fatmawati: “Yasudah kalau begitu diminum dulu obatnya. Ibu
jahit dulu ya benderanya, bapak istirahat saja.”
Soekarno: “Baiklah, oh iya bu tolong bangunkan aku pada sore
hari ya. Ada urusan yang harus aku selesaikan mengenai teks proklamasi.”
Fatmawati: “Baiklah, Pak.”
Narator: Saat Soekarno sedang istirahat, sang istri sedang
menjahit bendera dengan ukuran 2 x 3 meter menggunakan mesin jahitnya.
Fatmawati: “Alhamdulillah, selesai juga. Aku simpan saja di
atas meja. Lebih baik aku bangunkan saja bapak karena sudah sore. Pak, bangun
sudah sore.”
Soekarno: *wajah mengantuk* “Oh iya bu, aku siap-siap dulu.”
Narator: Setelah Soekarno bersiap-siap, Soekarno berpamitan
pada istrinya..
Soekarno: “Aku pamitan dulu ya bu, assalamualaikum.”
Fatmawati: “Waalaikum salam..”
Narator: Pagi hari tanggal 17 agustus 1945 pukul 04.30 WIB
para pemimpin nasional dan para pemuda kembali ke rumah masing-masing untuk
mempersiapkan penyelengaraan pembacaan teks proklamasi kemerdekaan Indonesia
setelah selesai merumuskan dan mengesahkan teks proklamasi di rumah Laksamana
Maeda. Pembacaan teks proklamasi akan diselengarakan di lapangan Ikada, para
rakyat amat senang mendengar berita itu dan membanjiri lapangan Ikada namun
pasukan Jepang telah mencium isu berita tersebut akhirnya lapangan Ikada dijaga
ketat oleh pasukan Jepang. Setibanya di lapangan Ikada…
Rakyat: “Ayo kabeh kita kudu cepet kesusu menyang lapangan
Ikada kanggo Witness maca teks proklamasi kamardikan Indonesia! Supaya kita
bisa bebas saka torture invaders!”
Rakyat: “Ayoo…..!!!”
Narator: Para rakyat tidak mengetahui bahwa di lapangan
ikada dijaga ketat oleh pasukan Jepang…
Rakyat: “Mengapa kene ada tentara Jepang? Apakah Presiden
kita menyuruhnya untuk berjaga-jaga?”
Rakyat: “Ah, ora mungkin! Jepang itu musuh kita, jadi mana
mungkin Ir. Soekarno menyuruh pasukan Jepang untuk berjaga-jaga. Bagaimana
kalau kita menunggu Barisan Pelopor Sudiro saja?”
Narator: Beberapa menit kemudian para barisan pelopor Sudiro
telah datang…
Sudiro: “Mengapa kalian ada disini? Apakah kalian ingin
menggagalkan rencana kita? “
Pasukan Jepang: “Hahahaha.. Memang kita tidak ingin kalian
merdeka begitu saja!”
Sudiro: “Memang kalian tidak punya hati! Kalian masih saja
ingin melihat rakyat Indonesia sengsara akibat ulah kalian. Memang kejam kalian
semua!!”
Narator: Setelah Sudiro marah ia langsung bergegas
melaporkan kepada Muwardi (Kepala Keamanan Soekarno).
Sudiro: *Dengan kelelahan “Assalamualaikum…”
Muwardi: “Waalaikum salam, ada apa ini? Mengapa kau
kecapaian gitu? Tenang dulu, ambil napas..”
Sudiro: “Begini pak, di lapangan ikada ada pasukan Jepang
berjaga-jaga dengan membawa senjata.”
Muwardi: “Hahaha, kau salah mendengar ya? Ternyata pembacaan
teks proklamasi akan diselenggarakan di rumah Soekarno Jalan Pegangsaan Timur
No 56. Yasudah kalau begitu kamu sampaikan pada rakyat dan para pemuda untuk datang
di rumah Soekarno, tetapi jangan sampai pasukan Jepang mendengarnya.”
Narator: Akhirnya Sudiro kembali ke lapangan ikada untuk
menyampaikan berita bahagia ini kepada rakyat dan kelompok muda. Rakyat dan
kelompok muda tiba di kediaman Soekarno..
Dr. Muwardi: “Dimana Latief Hendraningrat?”
Latief Hendraningrat: “Saya disini, ada apa tuan
memanggilku?”
Dr. Muwardi: “Tolong kamu berjaga-jaga di depan halaman
rumah agar pasukan Jepang tidak mengganggu rencana kita.”
Latief Hendraningrat: “Baik, tetapi bolehkah kalau Arifin
Abdurrahman ikut berjaga-jaga?”
Dr. Muwardi: “Silahkan, boleh saja lebih banyak orang itu
lebih baik.”
Latief Hendraningrat: “Hey, Arifin bantu aku untuk
berjaga-jaga di halaman depan ya. Oh iya ajak juga pasukan Peta kan kalau
semakin banyak yang berjaga keamanan semakin ketat, iya tidak?”
Arifin Abdurrahman: “Yasudah, kalau begitu. Hahaha bisa saja
kau kata-katanya, yasudah ayo kita susun strateginya.”
Narator: Latief dan Arifin beserta pasukan Peta telah
berjaga-jaga di sekitar rumah Soekarno. Suasana kediaman Soekarno semakin
sibuk, persiapan peralatan dalam pembacaan teks proklamasi segera disiapkan
hingga wakil walikota Jakarta ikut mempersiapkan..
Suwiryo: “Mr. Wilopo tolong siapkan mikrofon dan pengeras
suara, segera!”
Mr. Wilopo: “Baik! Tetapi dimana aku harus mencarinya Pak?”
Suwiryo: “Kamu meminjam alat tersebut kepada Gunawan di Toko
Radio Satria di Salemba Tengah 24, cepat!”
Mr. Wilopo: “Baik pak!”
Narator: Sesampainya di Toko Radio Satria di Salemba Tengah
24….
Mr. Wilopo: “Nuwun sewu….”
Gunawan: “Iya, ada apa tuan kemari? Apakah ingin membeli
barangku?”
Mr. Wilopo: “Bukan tuan, aku kemari ingin meminjam mikrofon
dan pengeras suara. Apakah boleh?”
Gunawan: “Buat apa? Jika untuk keperluan yang tidak penting
maaf aku tak bisa meminjamkannya.”
Mr. Wilopo: “Untuk mengumandangkan teks proklamasi
kemerdekaan Indonesia tuan yang diselenggarakan di kediaman Soekarno. Jadi
apakah tuan boleh meminjamkannya?”
Gunawan: “Oh, tentu saja kalau untuk itu aku perbolehkan.
Sebentar aku ambilkan, tuan silahkan duduk.”
Narator: Setelah beberapa menit..
Gunawan: “Ini alat yang engkau minta. Oh, iya ini aku bawa
seseorang jika ada kerusakan panggil saja dia yang suruh memperbaikinnya.”
Mr. Wilopo: “Terimakasih tuan.”
Narator: Sesampainya Mr. Wilopo di kediaman Soekarno….
Mr. Wilopo: “Nuwun sewu, pak ini mikrofon dan pengeras
suaranya.”
Sudiro: “Yasudah letakkan ditempat itu!”
Narator: Mr. Wilopo segera menempatkan mikrofon dan pengeras
suara pada tempatnya. Kemudian Sudiro
memanggil Suhud..
Sudiro: “Suhud! Suhud! Kesini kau!”
Suhud: “Iya, Pak. Ada apa memanggilku?”
Sudiro: “Tolong kau carikan satu tiang bendera, cepat!”
Suhud: “Baiklah, pak! Dimana ya aku harus mencarinya? Oh iya
dibelakang rumah ini kan aku lihat sebatang bambu, aku pakai itu saja.”
Narator: Suhud mengambil bambu tersebut lalu membersihkannya
dan memberi lubang untuk memasukkan tali bendera. Lalu menancapkannya di dekat
teras dan memberikan tali untuk kelengkapan bendera. Menjelang pukul 10.00 WIB
datanglah tokoh pejuang diantaranya Dr. Buntaran Marmoatmojo, Ki Hajar
Dewantara, Mr. A.A Maramis dan Otto Iskandardinata. Di kediaman halaman
Soekarno..
Dr. Buntaran Marmoatmojo: “Bagaimana tuan apakah acaranya
sudah dimulai?”
Arifin Abdurrahman: “Belum tuan, tunggu sebentar Bung Karno
sedang menunggu Bung Hatta, para tuan silahkan duduk.”
Para pemuda: “Tuan bagaimana ini, kapan dimulainya?! Lelah
sekali kita menunggunya. Ayo tuan bilang kepada Soekarno agar cepat dimulai!”
Dr. Muwardi: “Iya tunggu sebentar, aku akan menyampaikan
keluhan kalian.”
Narator: Dengan terpaksa Dr. Muwardi menemui Soekarno di
kamarnya yang tengah membuat naskah pidato untuk membuka acaranya dan
berbincang dengan istrinya..
Fatmawati: “Ini pak benderanya sudah jadi. Oh iya pak, ibu
punya ide bagaimana kalau kita beri nama bendera ini “Sang Saka Merah Putih” ?”
Soekarno: *Sambil menulis pidato* “Bagus sekali itu idemu
bu, yasudah letakkan saja itu bendera di atas baki aku harus selesaikan teks
pidato ini.”
Narrator: Ditengah pembicaraan Soekarno dan Fatmawati
terdengar suara….
Dr. Muwardi: “Nuwun sewu maaf, Pak Soekarno hari sudah
semakin siang. Mengapa pembacaan proklamasi tidak segera dilaksanakan? Bukankah
lebih cepat lebih baik? Lagipula orang-orang sudah menunggu sejak tadi pagi
untuk menyaksikan pembacaan proklamasi?”
Soekarno: “Karena Hatta belum datang. Pembacaan proklamasi
akan dibacakan kalau Hatta sudah datang. Saya tidak bisa membacakan proklamasi
tanpa kehadiran Hatta disamping saya.”
Narator: Soekarno tetap bertindak keras untuk menolak
permintaan Dr. Muwardi. Tetapi Dr. Muwardi tetap saja bernekad untuk
mendesaknya lagi. Sekali lagi…
Dr. Muwardi: “Tapi Pak, orang-orang sudah tidak sabar lagi
untuk menyaksikan pembacaan proklamasi.”
Soekarno: *dengan kerasnya menjawab* “Saya tidak akan
membacakan proklamasi kalau Hatta tidak ada. Kalau Mas Muwardi tidak mau
menunggu silahkan membaca teks proklamasi itu sendiri!”
Dr. Muwardi: “Tapi Pak…”
Narator: Pada saat itulah terjadi perdebatan yang sengit.
Tiba-tiba diluar terdengar suara…
Rakyat: “Bung Hatta datang!”
Narator: Dengan berpakaian putih-putih Bung Hatta langsung
menemui Soekarno di kamarnya…
Bung Hatta: “Nuwun sewu.. Maaf Bung aku telat, bagaimana
apakah acaranya sudah dimulai?”
Soekarno: “Tidak apa-apa kau datang lima menit sebelum acara
dimulai, mari kita menuju tempat yang telah disediakan.”
Narator: Kedua tokoh pejuang nasional tersebut langsung
memasuki tempat yang telah disediakan. Rakyat menyambut mereka dengan gembira.
Hingga saatnya upacara proklamasi kemerdekaan segera disiapkan. Upacara
proklamasi kemerdekaan dilaksanakan tanpa protokol Latief memberikan aba-aba
siap kepada seluruh barisan pemuda..
Latief Hendraningrat: “Siaaaaappppp… Grak!!”
Narator: Semua yang ada di tempat tersebut berdiri tegak
dengan sempurna hingga suasan menjadi sangat hening ketika Soekarno dan Hatta
memasuki tempat tersebut.
Suwiryo: “Silahkan kepada Bung Karno dan Bung Hatta memasuki
tempat yang telah disediakan.”
Narator: Soekarno dan Hatta naik ke atas panggung. Soekarno
mendekati mikrofon dan dengan lantangnya beliau membacakan pidato singkat
sebelum pembacaan teks proklamasi dilaksanakan.
Soekarno: *membacakan pidato*
Saudara-saudara sekalian! Saya telah minta saudara-saudara
hadir disini untuk menyaksikan satu peristiwa maha-penting dalam sejarah kita.
Berpuluh-puluh tahun kita bangsa Indonesia telah berjoang, untuk kemerdekaan
tanah air kita bahkan telah beratus-ratus tahun! Gelombang aksi kita untuk
mencapai kemerdekaan kita itu ada naiknya dan ada turunnya, tetapi jiwa kita
tetap menuju ke arah cita-cita. Juga di dalam jaman Jepang, usaha kita untuk
mencapai kemerdekaan nasional tidak berhenti-hentinya. Di dalam jaman Jepang
ini, tampaknya saja kita menyandarkan diri kepada mereka, tetapi pada
hakekatnya, tetap kita menyusun tenaga sendiri, tetapi kita percaya kepada kekuatan
sendiri. Sekarang tibalah saatnya kita benar-benar mengambil sikap nasib bangsa
dan nasib tanah air kita di dalam tangan kita sendiri. Hanya bangsa yang berani
mengambil nasib dalam tangan sendiri akan dapat berdiri dengan kuatnya. Maka
kami, tadi malah telah mengadakan musyawarat dengan pemuka-pemuka rakyat
Indonesia dari seluruh Indonesia. Permusyawaratan itu seia sekata berpendapat
bahwa sekaranglah datang saatnya untuk menyatakan kemerdekaan kita.
Saudara-saudara!
Dengan ini kami menyatakan kebulatan tekad itu. Dengarkanlah
proklamasi kami:
Proklamasi
Kami bangsa Indonesia dengan ini menyatakan kemerdekaan
Indonesia.
Hal-hal yang mengenai pemindahan kekuasaan dan lain-lain,
diselenggarakan dengan cara saksama dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya.
Jakarta, 17 Agustus 1945
Atas Nama Bangsa Indonesia
Soekarno-Hatta
Demikianlah saudara-saudara!
Kita sekarang telah merdeka! Tidak ada satu ikatan lagi yang
mengikat tanah air kita dan bangsa kita! Mulai saat ini kita menyusun Negara
kita! Negara Merdeka, Negara Republik Indonesia – merdeka kekal dan abadi.
Insyaallah, Tuhan memberkati kemerdekaan kita itu!
Narator: Setelah disampaikan teks proklamasi kemerdekaan
Indonesia maka Negara Indonesia menjadi merdeka. Setelah itu, acara dilanjutkan
dengan pengibaran bendera Sang Saka Merah Putih yang dikibarkan oleh Latief dan
Suhud. Soekarno dan Hatta perlahan-lahan menuruni anak tangga. Suhud segera
mengambil bendera Merah Putih di atas baki, lalu beliau mengikatkan bendera ke
tali bendera dengan bantuan Latief Hendraningrat. Bendera Sang Saka merah putih
dikibarkan dengan iringan lagu Indonesia Raya..
*Suhud dan Latief berjalan perlahan-lahan dengan membawa
bendera merah putih, lalu mengikatnya ke tali bendera dan Suhud memegang ujung
bendera untuk dilebarkan sedangkan Latief memberi aba-aba bahwa bendera siap
dikibarkan*
Latief: “Bendera Merah Putih siap dikibarkan”
Sudiro: “Semuanya hormat….grak!”
*Para hadirin menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya
secara hikmad*
Narator: Semua hadirin termasuk para tokoh pejuang
menghormati bendera sampai bendera di puncak tiang. Upacara proklamasi
kemerdekaan Indonesia dilakukan secara hikmat. Upacara ditutup dengan sambutan
pidato dari Wakil Walikota Jakarta (Suwiryo) dan Dr. Muwardi. Dengan demikian,
upacara proklamasi kemerdekaan Indonesia selesai dilaksanakan semua hadirin
meninggalkan tempat bersejarah itu. Selesai sudah momen yang sangat bersejarah.
Teks lainya 4
SCENE I : Berita Kekalahan Jepang
Pada tanggal 15 Agustus 1945, Kaisar Hirohito memerintahkan
penghentian permusuhan terhadap sekutu, setelah sebelumnya yaitu pada tanggal
14 Agustus 1945 sekutu menjatuhkan bom atom di kota Hiroshima dan Nagasaki.
Berita tentang genjatan senjata yang dilakukan oleh Jepang ini disiarkan di radio
jepang dari Tokyo. Ternyata siaran tersebut tertangkap di Indonesia dan Sutan
Syahrir mendengarnya.
Sutan Syahrir : Apakah kalian sudah mendengar berita
kekalahan Jepang ?
Sukarni : Belum, Bung . Benarkah itu ? Apa yang terjadi
dengan Jepang ?
Sutan Syahrir : Dari yang kudengar, Sekutu telah menjatuhkan
bom di kota Hiroshima dan Nagasaki. Oleh sebab itulah, Jepang melakukan
genjatan senjata.
Chairul Shaleh : Kalau begitu, berarti kita harus segera
memproklamirkan kemerdekaan.
Sukarni : Benar itu, Jepang sudah tak ada wewenang lagi di
negeri kita. Kita harus memanfaatkan momen ini !
SCENE II : Peristiwa Rengasdengklok
Babak 1 : Perdebatan golongan tuan dengan golongan muda
Setelah mendengar berita kekalahan Jepang, Chairul Shaleh
segera merencanakan pertemuan dengan anggota golongan muda lainnya untuk
membicarakan masalah proklamasi kemerdekaan. Pertemuan ini dilangsungkan di
Jalan Pegangsaan Tinur No. 17 Jakarta pukul 20.00 WIB.
Chairul Shaleh : Teman-teman sekalian, sudahkah kalian
mendengar berita tentang kekalahan Jepang ?
Wikana : Belum, kawan . Darimana engkau tahu tentang itu ?
Chairul Shaleh : Barusan saya dan Sukarni berkumpul dengan
Syahrir, ia mendengar siaran radio Jepang yang mengumumkan berita tentang
genjatan senjata itu.
Darwis : Berarti negeri kita sekarang dalam kondisi vacuum
of power ?
Chairul Shaleh : Benar. Demikian, saya mengumpulkan kalian
semua disini untuk membicarakan masalah itu. Kita harus memanfaatkan situasi
ini untuk memproklamirkan kemerdekaan.
Sukarni : Tepat sekali . Kalau begitu, kita harus membagi
tugas. Wikana dan Chairul , kalian harus pergi ke kediaman Soekarno untuk
menyampaikan kabar ini.Saya dan Bung Darwis akan memerintahkan anggota pemuda
lainnya untuk merebut kekuasaan dari Jepang.
Kediaman Soekarno, Jl. Pegangsaan Timur No.56 Jakarta pukul
22.00 WIB. Terjadi Perdebatan serius antara golongan pemuda dengan Soekarno
Wikana : Kita harus memproklamirkan kemerdekaan sekarang ,
Bung !
Soekarno : Ini batang leherku, seretlah aku ke pojok itu
sekarang dan potong leherku malam ini juga ! Kamu tidak perlu menunggu hingga
esok hari !
Chairul Shaleh : Tapi ini saat yang tepat, Bung. Jepang
sudah kalah oleh Sekutu dan tak ada kuasa lagi di negeri ini. Mengapa harus
menunggu ? Rakyat sudah banyak menderita akibat penjajahan ini..
Moh. Hatta : Jepang adalah masa yang silam. Belum lagi kita
harus menghadapi Belanda yang hendak kembali berkuasa di negeri ini. Jika
Saudara tidak setuju dengan apa yang saya katakan, dan mengira diri Saudara
telah sanggup menopang kekuatan sendiri, Mengapa datang pada Soekarno dan
memintanya untuk memproklamirkan kemerdekaan?
Chairul Shaleh : Apakah kita harus menunggu janji Jepang
untuk memerdekakan bangsa ini ? Kita bisa, Bung . Kita harus bangkit dan
memproklamirkan kemerdekaan sendiri . Mengapa harus menunggu janji manis itu ?
Jepang sendiri bahkan telah kalah dalam "Perang Suci" nya !
Soekarno : Kekuatan segelintir ini takkan mampu mengalahkan
armada perang milik Jepang ! Coba kau perlihatkan padaku, mana bukti kekuatan
yang diperhitungkan itu ? Apa tindakanmu untuk menyelamatkan wanita dan
anak-anak jika ternyata terjadi pertumpahan darah ? Bagaimana cara kita nanti
untuk mempertahankan kemerdekaan ? Coba bayangkan, bagaimana kita akan tegak di
atas kekuatan sendiri.
Wikana : Tapi semakin cepat kita memproklamasikan
kemerdekaan akan semakin cepat pula kita mengakhiri penderitaan rakyat yang
sudah ditanggung selama ini.. Inilah yang sudah ditunggu-tunggu bangsa kita,
Bung.
Moh. Hatta : Baiklah. Tapi berikan kami waktu untuk
berunding sebentar.
Kemudian para anggota golongan tua yang berada di kediaman
Soekarno langsung membicarakan permasalahan tersebut.
Moh. Hatta : Bagaimana ini ? Para pemuda menuntut untuk
segera memproklamasikan kemerdekaan.
Soekarno : Tapi kita tidak boleh gegabah, Bung. Kita butuh
waktu untuk mempersiapkan semuanya dengan matang agar tidak terjadi sesuatu
yang tidak diinginkan.
Mr. Soebardjo : Saya setuju. Menurut saya, yang terpenting
sekarang adalah menghadapi Sekutu yang hendak berniat kembali berkuasa di
negeri ini. Selain itu, masalah kemerdekaan
sebaiknya dibicarakan lagi dalam sidang PPKI 18 Agustus
mendatang.
Iwa Kusumasumantri : Lalu bagaimana dengan pendapat golongan
muda ? Apa kita abaikan saja ?
Djojo Pranoto : Ya, lagipula mereka masih muda, pemikiran
mereka terlalu pendek. Kita harus melihat ke depan, mempersiapkannya dengan
matang. Kalau tidak bagaimana nanti jika semuanya berantakan?
Iwa Kusumasumantri : Baiklah , Bung. Berarti kita semua
sudah sepakat.
Setelah selesai berunding, para golongan tua segera menemui
para anggota golongan muda yang menunggu di luar ruangan.
Moh. Hatta : Setelah kami berunding tadi, kami memutuskan
untuk tidak tergesa-gesa mengenai hal proklamasi kemerdekaan. Hal ini masih
akan dibicarakan lagi dalam sidang PPKI.
SCENE II : Peristiwa Rengasdengklok
BABAK 2 : Penculikkan Soekarno dan Moh. Hatta oleh para
pemuda.
Dengan berat hati mendengar keputusan tersebut, para pemuda
pun meninggalkan kediaman Soekarno. Tetapi mereka tidak putus asa. Mereka pun
menyusun strategi bagaimana membujuk Soekarno dan Moh. Hatta untuk
memproklamasikan kemerdekaan sesegera mungkin. Akhirnya mereka memutuskan untuk
mengasingkan kedua tokoh itu ke Rengasdengklok agar terhindar dari desakan
pemuda dan pengaruh Jepang di Jakarta.
Tanggal 16 Agustus 1945 Pukul 04.00 WIB, kediaman Soekarno
Chairul Shaleh : Assalamualaikum ..
Moh. Hatta : Waalaikumsalam. Ada apa Saudara datang sepagi
ini ?
Darwis : Kami bermaksud membawa Anda dan Soekarno untuk ikut
kami menuju tempat pengasingan.
Soekarno : Tempat pengasingan ? Apa yang Saudara maksudkan ?
Chairul Shaleh : Ya, kami akan membawa kalian untuk
diasingkan agar terhindar dari ancaman bentrok antara rakyat dan Jepang.
Moh. Hatta : Baiklah, kami akan ikut.
Darwis : Sebaiknya Ibu Fatmawati dan anak Anda turut serta,
Bung. Untuk menjamin keselamatan mereka.
Soekarno : Baiklah, saya akan mengajak mereka.
Hilangnya Soekarno dan Moh. Hatta secara misterius pagi
itu,menimbulkan kepanikan di kalangan para pemimpin di Jakarta. Peristiwa ini
baru diketahui oleh Mr. Ahmad Soebardjo pukul 08.00 pagi.
Mr. Soebardjo : Apakah Saudara tahu keberadaan Soekarno dan
Bung Hatta ?
Wikana : Maaf, saya tidak tahu, Bung.
Mr. Soebardjo : Katakanlah kepadaku dimana mereka sekarang,
dan aku akan menjamin keselamatan mereka ketika kembali ke Jakarta, dan aku akan
menjamin kemerdekaan untuk kalian esok harinya.
Sudiro : Akankah Anda bersumpah untuk itu ?
Mr. Soebardjo : Kau bisa percaya padaku, Nak
Wikana : Baiklah, kami akan menunjukkan tempatnya, di
Rengasdengklok.
Mr. Soebardjo : (memanggil salah seorang pemuda) Hei, Nak !
Tolong antarkan kami ke Rengasdengklok.
Yusuf Kunto : Maaf, saya, Pak ? Baik, kalau begitu naiklah
(Mr. Soebardjo naik ke mobil beserta Wikana dan Sudiro kemudian berangkat
menuju Rengasdengklok)
BABAK 3 : Perundingan dengan Soekarno di Rengasdengklok
Soekarno : Nah , jelaskan sekarang mengapa Saudara sekalian
membawa kami kesini.
Chairul Shaleh : Maafkan kelancangan kami, Bung . Ini demi
keselamatan Anda.
Darwis : Kami ingin membicarakan masalah proklamasi kembali.
Moh. Hatta : Bukankah tempo hari sudah kami katakan kepada
kalian, masalah kemerdekaan masih akan dibicarakan dalam sidang PPKI ?
Chairul Shaleh : Memang benar adanya. Tetapi kami semua
berpendapat, Mengapa menunggu untuk di merdekakan oleh Jepang ? Mengapa
menunggu hasil sidang PPKI, kalau kita bisa bergerak dengan kekuatan sendiri ?
PPKI itu bentukan Jepang, Bung. Kami ingin memproklamasikan kemerdekaan tanpa
campur tangan dari Jepang.
Soekarno : Pendapat itu benar. Namun, kita masih terlalu
dini untuk memproklamasikan kemerdekaan. Selain itu kita belum siap dan masih
membutuhkan bantuan dari Jepang untuk merdeka.
Darwis : Bagaimana bila perkataan Jepang tentang kemerdekaan
bangsa kita hanya janji manis belaka ? Apa yang akan Anda lakukan ?
Sukarni : Apakah akan selamanya menunggu janji itu, Bung ?
Kita harus memproklamasikan kemerdekaan sekarang juga, demi rakyat yang sudah
bertahun-tahun terbelenggu oleh penjajahan di Tanah Air mereka sendiri ! Mereka
berhak bebas, dan sekaranglah saatnya !
Syodanco Singgih : Tenang Saudara sekalian. Mari bicarakan
semuanya dengan kepala dingin, tidak perlu ada ketegangan , ok ?
(Syodanco Singgih membawa Soekarno dan Moh. Hatta menjauh
dari perdebatan itu, kemudian mereka berunding)
Syodanco Singgih : Saya mengerti perhitungan Anda berdua
mengenai masalah proklamasi ini, kita memang belum mempertimbangkan semuanya
dengan matang. Tapi saya percaya kita dapat bangkit dan memanfaatkan situasi
ini. Kesempatan tidak akan datang dua kali, Bung . Apa yang mereka katakan
benar adanya dan saya mendukung mereka.
Moh. Hatta : Tetapi, apakah kita bisa?Akankah ini semua
mungkin dilakukan ?
Syodanco Singgih : Tentu mungkin, Bung . Asal kita berusaha
tentu akan kita temukan jalan keluarnya. Lagipula, para pemuda di Jakarta
sedang menyusun strategi pertahanan untuk mencegah serangan dari Jepang ataupun
sekutu yang tidak menerima proklamasi bangsa kita.
Soekarno : Baiklah, saya setuju. Kita akan memproklamasikan
kemerdekaan tanpa ada campur tangan Jepang.
Pada pukul 17.30 WIB , rombongan dari Jakarta tiba di Rengasdengklok
untuk menjemput Soekarno dan Moh. Hatta.
Mr. Soebardjo : Syukurlah kalian semua baik-baik saja. Jadi
bagaimana keputusannya ?
Moh. Hatta : Kami setuju kemerdekaan akan dilaksanakan tanpa
campur tangan Jepang.
Mr. Soebardjo : Lalu, Kapan kita akan melaksanakannya?
Menurut saya, bagaimana jika besok ? Pasukan pemuda di Jakarta sudah bersiap.
Soekarno : Jika mungkin, ya kita akan melaksanakannya esok
pagi.
Selesailah perundingan di Rengasdengklok. Semua anggota
golongan tua maupun muda kembali ke Jakarta untuk membahas lanjut rencana
proklamasi kemerdekaan tanggal 17 Agustus 1945.
SCENE III : Rumah Laksamana Maeda (Perumusan Teks
Proklamasi)
Tanggal 16 Agustus 1945 pukul 23.00 WIB, rombongan tiba di
Jakarta.
Mr. Soebardjo : Bagaimana kita membicarakan naskah
proklamasi untuk mendeklarasikan kemerdekaan kita ?
Chairul Shaleh : Kita butuh tempat untuk membahasnya, Bung.
Tapi hari sudah malam dan pihak Jepang tak mungkin mengizinkan kita melakukan
kegiatan sekarang, apalagi jika mereka tahu bahwa kita hendak membicarakan
rencana proklamasi.
Mr. Soebardjo : Saya punya ide. Kita akan meminjam rumah
perwira Jepang, Laksamana Maeda.
(Rombongan kemudian berangkat ke rumah Laksamana Maeda di
Jl. Imam Bonjol No.1)
Mr. Soebardjo: (mengetuk pintu)
Laksamana Maeda : Selamat malam, Ada apa, Bung ?
Mr. Soebardjo : Maaf kami mengganggu Anda malam-malam
begini. Kami perlu tempat untuk membicarakan rencana kemerdekaan yang akan
dilangsungkan esok hari.
Laksamana Maeda : Benarkah itu ? Kalau begitu,masuklah. Saya
turut gembira mendengar kabar ini . Silakan gunakan ruangan yang kalian
butuhkan. Saya akan pergi istirahat dulu.
Chairul Shaleh : Terimakasih, Pak Perwira.
Perumusan Teks Proklamasi dilakukan di rumah makan Maeda.
Tiga eksponen pemuda yaitu Sukarni, Sudiro, dan B.M Diah menyaksikan Soekarno,
Moh Hatta, dan Mr. Ahmad Soebardjo membahas perumusan naskah proklamasi.
Acara Perumusan naskah proklamasi berjalan lancar.Tidak
ditemukan kesulitan untuk menemukan rumusan yang tepat. Sebagai hasil
pembicaraan mereka bertiga, di perolehlah rumusan yang di tulis tangan oleh
Soekarno.
Pada tanggal 17 Agustus 1945 pukul 04.00 WIB, dibacakanlah
rumusan naskah proklamasi untuk yang pertama kalinya di depan para hadirin yang
berada di rumah Maeda yang langsung disetujui. Namun kemudian timbullah
persoalan tentang siapa saja yang akan menandatangani naskah proklamasi.
Chairul Shaleh : Menurut saya, sebaiknya naskah ini jangan
ditandatangani oleh anggota PPKI.
B.M Diah : Memang kenapa ? Lantas siapa yang akan
menandatanganinya?
Chairul Shaleh : PPKI kan lembaga bentukkan Jepang . Kita
sudah sepakat tadi untuk melaksanakan proklamasi tanpa campur tangan Jepang.
Mr. Soebardjo : Kau benar, Nak. Bagaimana ini , Bung ?
Soekarno : Adakah dari kalian yang punya pendapat untuk
menyelesaikan masalah ini?
Sukarni : Bagaimana jika naskah ini ditandatangani oleh
hadirin yang datang saat ini? Seperti Amerika ketika menandatangani teks
deklarasinya.
Moh.Hatta : Jangan, kita tidak boleh meniru. Kita harus
berbeda dari bangsa lain.
Wikana : Lalu bagaimana, Bung Karno ?
Soekarno : Karena ini semua berkat jasa-jasa Indonesia
berarti "Atas nama bangsa Indonesia"
Sukarni : Saya setuju, dan saya punya usul. Yang
menandatangani teks cukup dua orang saja yaitu Anda dan Bung Hatta sebagai
wakil dari bangsa Indonesia. Bagaimana ?
Soekarno : Usul yang bagus . Bagaimana hadirin ?
Hadirin (semua) : Kami setuju !!!
Setelah semuanya setuju, Soekarno memerintahkan Sayuti Melik
untuk mengetik teks proklamasi
Soekarno : Tolong kau ketik teks proklamasi ini. Jagalah
teks ini baik-baik.
Sayuti Melik : Baik, Bung . (dengan segera mengetik teks
tersebut)
Sayuti Melik pun mengetik teks tersebut. Semua persiapan
proklamasi rampung pada pukul 04.30 WIB. Lalu, semua hadirin pulang ke rumah
masing-masing dengan perasaan gembira. Kemudian para pemuda mengirimkan
kurir-kurir untuk menyampaikan bahwa saat proklamasi telah tiba. Mereka juga
mengatur pelaksanaan penyiaran berita proklamasi kemerdekaan. Menyebarkan
beberapa pamfleet ke penjuru Jakarta dan sekitarnya. Pengeras suara diusahakan
adanya. Semua dilakukan agar rakyat dapat turut menyaksikan momen paling
berharga untuk bangsa Indonesia
Pada saat yang sama, Soekarno dan Ibu Fatmawati sampai di
kediaman mereka dan berbincang sejenak.
Soekarno : Alhamdulillah akhirnya semua berjalan dengan
lancar. Terimakasih ibu telah menemani saya di saat-saat yang cukup menguras
pikiran ini.
Ibu Fatmawati : Iya, terimakasih Gusti Allah yang telah
memberikan jalan pada bangsa kita untuk memproklamasikan kemerdekaan. Oh iya
pak, apakah kalian sudah merencanakan bagaimana proklamasi besok akan
berlangsung ?
Soekarno : Sudah, kita akan melaksanakan upacara bendera,
yang nanti akan di iringi lagu Indonesia Raya karya Bung Supratman.
Ibu Fatmawati : Bukankah kita belum punya bendera ? lantas
bagaimana ?
Soekarno : Ya ampun , Bapak sampai lupa, Bu. Kalau begitu
bagaimana jika Ibu saja yang menjahitkan bendera ?
Ibu Fatmawati : Tapi Ibu tidak punya kain, Pak. Kain yang
ada hanya kain merah dan putih. Apa tidak apa-apa?
Soekarno: Tentu saja. Buatlah bendera yang sederhana. Yang
penting kita sudah berusaha untuk menyediakannya.
Ibu Fatmawati : Baiklah, Pak. Dan, Ibu punya ide. Kita
namakan saja bendera nya "Sang Saka Merah Putih". Bagaimana ?
Soekarno : Ide yang bagus. Ya, bendera pusaka "Sang
Saka" dan warna nya merah putih , menjadi "Sang Saka Merah
Putih" , Brilian !
Ibu Fatmawati : Ya sudah, sebaiknya Bapak bersiap sana.
Menyusun pidato yang nanti akan bapak bacakan.
SCENE IV : Proklamasi Kemerdekaan
Hari Jum'at pada tanggal 17 Agustus 1945 pukul 10.00 WIB di
Jl. Pegangsaan Timur No.56 , dilangsungkan proklamasi kemerdekaan Indonesia.
Sesaat sebelum upacara dimulai…
Soekarno : Trimurti, tolong Anda kibarkan bendera Merah
Putih ini sebagai tanda awal kejayaan bangsa ini. (sambil menyerahkan bendera)
Trimurti : Siap, Bung. Saya akan menyuruh anak didik saya
untuk mengibarkannya. (memanggil Suhud dan Latief) Hei, kalian ! Jaga baik-baik
bendera ini. Kalian mendapat kehormatan untuk mengibarkan bendera ini untuk
pertama kalinya dalam sejarah Indonesia.
Latief dan Suhud : Siap, Komandan ! Kami tak akan
mengecewakan Anda.
Tiba saatnya Upacara Proklamasi Kemerdekaan Indonesia…
Tokoh-tokoh pejuang Indonesia telah hadir di lokasi. Di
antaranya yaitu Mr. AA. Maramis, HOS Cokroaminoto, Otto Iskandardinata, Ki
Hajar Dewantara, M. Tabrani dll.
Suasana menjadi sangat hening. Soekarno dan Hatta
dipersilahkan maju beberapa langkah dari tempatnya semula. Soekarno mendekati
mikrofon. Dengan suaranya yang lantang dan mantap, Soekarno pun membacakan
pidato pendahuluan sebelum beliau membacakan teks proklamasi.
Pidato Soekarno :
Saudara-saudara sekalian ! Saya telah minta Saudara hadir
disini, untuk menyaksikan peristiwa maha penting dalam sejarah bangsa kita.
Berpuluh-puluh tahun kita bangsa Indonesia telah berjuang umtuk merdeka. Bahkan
telah beratus-ratus tahun lamanya, gelombang aksi kita tidak putus dalam
berjuang untuk memerdekakan negeri ini. Kita jatuh bangun menyusun kekuatan
untuk menggapai cita-cita Indonesia bebas dari penjajahan bangsa lain. Semalam,
kami para pemuka-pemuka rakyat Indonesia dari berbagai penjuru bergabung untuk
memusyawarahkan dan permusyawaratan itu seiya-sekata berkata : inilah saatnya
bagi kita untuk mengobarkan api revolusi kemerdekaan Indonesia. Saudara
sekalian ! Dengan ini kami menyatakan kebulatan tekad itu. Dengarkanlah
proklamasi kami :
PROKLAMASI
Kami bangsa Indonesia dengan ini menyatakan Kemerdekaan
bangsa Indonesia. Hal-hal yang mengenai pemindahan kekuasaan dan lain-lain,
diselenggarakan dengan cara saksama dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya
Jakarta, hari 17 bulan 8 tahun 45
"Atas nama bangsa Indonesia"
Soekarno-Hatta
Kemudian di kibarkanlah bendera Sang Saka Merah Putih
diiringi lagu Indonesia Raya. Hadirin turut menyanyikan lagu kebangsaan
Indonesia tersebut.
Peristiwa Proklamasi ini memang hanya berlangsung sebentar.
Namun. Peristiwa itu telah megubah segala sendi kehidupan bangsa Indonesia.
Peristiwa Proklamasi Kemerdekaan telah menjadi momentum puncak perjuangan
Bangsa Indonesia. Oleh karena itu, kita sebagai generasi penerus bangsa harus
berprestasi dalam rangka mengisi kemerdekaan tersebut, bukan malah menodainya.
Kita harus bisa membalas budi para pejuang Tanah Air jaman dahulu dengan cara
mempertahankan kemerdekaan ini !
Itulah dialog terjadinya detik-detik proklamasi kemerdekaan
RI pada tahun 1945. Sebagai warga negara Indonesia yang baik sudah seharusnya
kita tumbuhkan rasa nasionalisnme pada diri kita, caranya dengan menjaga
persatuan dan kesatuan NKRI, saling menghargai, menjaga kerukunan antar sesama
dan saling membantu antar sesama WNI.